Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

TEPI HUB HEALING RETREAT Hadirkan Semadi Japa Giri: Ketika Manusia Berhenti Sejenak untuk Pulang kepada Diri Sendiri

Selasa, September 01, 2026 | September 01, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-01T00:05:15Z

.                        foto : istimewa 
YOGYAKARTA | kompasX.com—Kaki merapi, 29 Agustus 2026.

Barangkali ada satu hal yang paling sulit dilakukan manusia di tengah kehidupan yang semakin cepat: berhenti.

Kita terbiasa bergerak. Mengejar pekerjaan, memenuhi harapan, menyelesaikan persoalan, mengejar target, membangun citra, bahkan berusaha menjadi seseorang yang dianggap berhasil. Hari-hari dipenuhi suara, notifikasi, percakapan, tuntutan, dan keputusan.

Namun di balik semua kesibukan itu, sering kali ada satu suara yang justru paling jarang kita dengarkan: suara dari dalam diri sendiri.

Di lereng Merapi, Kaliurang, TEPI HUB HEALING RETREAT menghadirkan Semadi Japa Giri, sebuah perjalanan reflektif dan kontemplatif yang mengajak peserta mengambil jeda dari hiruk-pikuk kehidupan.

Kegiatan ini bukan tentang melarikan diri dari kehidupan. Justru sebaliknya, Semadi Japa Giri menjadi ruang untuk kembali melihat kehidupan dengan kesadaran yang lebih jernih.

Peserta tidak diajak untuk menjadi manusia yang sempurna. Mereka justru diajak untuk menerima diri, mendengarkan suara hati, melepaskan beban yang telah lama dipikul, dan perlahan menemukan kembali pusat ketenangan dalam dirinya.

Pesan yang menjadi napas perjalanan ini begitu sederhana sekaligus dalam:

Datanglah bukan untuk menjadi sempurna, tetapi untuk pulang kepada dirimu sendiri.”

Perjalanan dimulai dengan Arrival & Grounding Welcome. Peserta datang, menerima minuman herbal, kemudian perlahan meninggalkan kesibukan dari luar dan memasuki ruang Giri. Sebuah proses sederhana untuk mengubah posisi: dari dunia yang penuh kecepatan menuju ruang yang memberi kesempatan kepada diri untuk berhenti.

                            Foto : istimewa

Pada Opening Circle, peserta diajak memasuki perjalanan Samudra menuju Giri, menyusun niat pribadi dan memahami ruang aman yang akan menjadi bagian dari perjalanan bersama.

Kemudian perjalanan dilanjutkan melalui Mindful Nature Walk — Lakuning Giri. Peserta berjalan dalam keheningan, menyadari napas, langkah, suara alam, dan kehadiran diri.

Berjalan dalam keheningan ternyata bukan perkara sederhana.

Kita sering berada di satu tempat, tetapi pikiran berada di tempat lain.

Tubuh duduk, tetapi pikiran berlari.

Tubuh beristirahat, tetapi kepala masih sibuk menyelesaikan persoalan.

Maka keheningan menjadi sebuah kebutuhan.

Bukan karena dunia harus dibuat sunyi, tetapi karena manusia perlu kembali mampu mendengar.

Memasuki Deep Meditation — Tatag, peserta diajak mengenali batin, menerima apa yang masih tersisa, dan menemukan pusat ketenangan.

Di titik ini, perjalanan mulai menyentuh ruang yang lebih dalam.

Sebab melepaskan tidak selalu berarti melupakan.

Melepaskan bisa berarti berani melihat sesuatu apa adanya.

Rasa kecewa.

Ketakutan.

Penyesalan.

Ambisi.

Luka.

Harapan.

Bahkan ego yang selama ini ingin mengendalikan segala sesuatu.

Tidak semuanya harus dilawan.

Kadang-kadang ia hanya perlu disadari.

Dalam Inner Reflection — Teteg, peserta diajak menulis pertanyaan: “Apa yang ingin aku teguhkan dalam diriku setelah belajar melepaskan?”

Pertanyaan tersebut membawa kita pada sebuah kesadaran penting.

Selama ini manusia sering bertanya:

“Apa yang harus aku dapatkan?”

Tetapi perjalanan kontemplatif mengajak kita membalik pertanyaan itu:

“Setelah semua yang kulepaskan, siapa diriku yang tersisa?”

Mungkin hidup bukan hanya tentang menambah.

Ada saatnya hidup meminta kita mengurangi.

Mengurangi kebisingan.

Mengurangi keterikatan.

Mengurangi kebutuhan untuk selalu membuktikan sesuatu.

Mengurangi keinginan untuk mengendalikan segala sesuatu.

Hingga akhirnya kita menemukan sesuatu yang sejak awal tidak pernah benar-benar hilang: diri yang hadir.

Perjalanan kemudian memasuki Giri Intention Ritual — Tutug. Peserta menuliskan satu niat atau komitmen yang ingin dibawa pulang dan diwujudkan setelah perjalanan Giri selesai.

Di sinilah Semadi Japa Giri menemukan makna pentingnya.

Kontemplasi bukan sekadar pengalaman.

Ketenangan bukan sekadar suasana.

Dan kesadaran bukan sekadar kata.

Semuanya harus kembali ke kehidupan.

Sebab seseorang tidak benar-benar berubah hanya karena pernah duduk dalam keheningan. Perubahan terjadi ketika kesadaran yang ditemukan dalam keheningan itu dibawa pulang ke rumah, pekerjaan, relasi, keputusan, konflik, dan kehidupan sehari-hari.

Karena itu, Gerak Rasa & Breathwork menjadi bagian untuk menghubungkan kembali tubuh, pikiran, dan rasa. Perjalanan kemudian ditutup melalui meditasi, gratitude, dan integrasi pengalaman.

Pada Healing Circle — Raras Rasa, peserta diberi ruang untuk berbagi dalam suasana aman. Tidak menghakimi dan tidak memberi nasihat tanpa diminta. Cukup hadir dan mendengarkan.

Barangkali justru di sanalah salah satu bentuk kesembuhan yang paling sederhana berlangsung.

Ketika seseorang tidak lagi merasa harus menjelaskan dirinya agar diterima.

Ketika seseorang boleh hadir apa adanya.

Tanpa topeng.

Tanpa tuntutan.

Tanpa harus terlihat kuat setiap saat.

Dan perjalanan akhirnya ditutup dengan tiga kata:

Tatag. Teteg. Bakal Tutug.

Tatag untuk berani menghadapi.

Teteg untuk teguh menjalani.

Dan Tutug untuk menuntaskan.

TEPI HUB HEALING RETREAT melalui Semadi Japa Giri seolah mengingatkan bahwa dalam kehidupan yang semakin ramai, manusia membutuhkan ruang untuk kembali hening.

Bukan untuk meninggalkan dunia.

Tetapi untuk kembali ke dunia dengan kesadaran yang lebih utuh.

Sebab mungkin yang paling melelahkan bukan banyaknya pekerjaan yang kita lakukan.

Melainkan terlalu lama menjadi seseorang yang bukan diri kita sendiri.

Di lereng Merapi, dalam perjalanan menuju Giri, peserta diajak berhenti sejenak dan mendengarkan.

Bukan suara dunia.

Melainkan suara yang selama ini mungkin tertutup oleh kebisingan kehidupan.

Dan pada akhirnya, mungkin kita akan menemukan bahwa pulang tidak selalu berarti kembali ke sebuah rumah.

Pulang bisa berarti kembali kepada diri sendiri.

Kembali kepada napas.

Kembali kepada rasa.

Kembali kepada kesadaran.

Dan akhirnya, kembali mengalami kehidupan—bukan sekadar terus-menerus melakukan.

Karena mungkin, pada kedalaman tertentu, hidup bukan tentang seberapa jauh kita telah pergi.

Melainkan seberapa utuh kita mampu pulang.

(Johnson)

×
Berita Terbaru Update