![]() |
| Foto : Penampakan MBG Yang Terdapat Lintah Di Porworejo |
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Purworejo tidak tinggal diam. Kepala Dindikbud, Yudhie Agung Prihatno, langsung melontarkan peringatan keras sekaligus ultimatum kepada seluruh Penyelenggara Pelayanan Gizi dan Pangan (SPPG) yang terlibat. Ia menuntut pengetatan kendali mutu di setiap tahap penyajian.
“Makanan yang disajikan harus mutlak layak konsumsi, higienis, dan bebas dari segala bentuk kontaminasi. Kejadian serupa tidak boleh terulang lagi,” tegasnya, Selasa (28/4/2026).
Insiden bermula dari laporan seorang siswa kelas IX yang menemukan benda mencurigakan di piringnya. Pihak sekolah langsung bertindak cepat: seluruh menu hari itu ditarik dari peredaran dan kejadian segera dilaporkan ke SPPG Mranti sebagai penyedia utama. Makanan pengganti pun disalurkan pada hari yang sama untuk memastikan kebutuhan siswa tetap terpenuhi.
Kepala Bagian Humas SMPN 2 Purworejo, Kofsatun Mardiyah, membenarkan insiden tersebut.
“Bentuknya kecil, menyerupai lintah, dan sudah mati. Sampai saat ini kami belum bisa memastikan jenisnya secara pasti,” ujarnya.
Distribusi makanan kembali berjalan normal keesokan harinya tanpa laporan gangguan serupa. Di sisi lain, pihak penyedia layanan pun mengakui adanya kesalahan. Kepala SPPG Mranti, Haryo Bagas Wicaksono, mengakui bahwa kelalaian terjadi pada tahap pembersihan bahan baku.
“Kemungkinan besar berasal dari sayuran yang kurang teliti saat proses pencucian. Ini menjadi pelajaran sekaligus evaluasi serius bagi seluruh tim kami,” akunya.
Perlu diketahui, SPPG Mranti melayani kebutuhan gizi hingga 2.700 siswa dengan dukungan 47 tenaga kerja, sementara di SMPN 2 Purworejo sendiri terdapat 640 penerima manfaat. Skala pelayanan yang besar ini kini menjadi sorotan tajam: satu celah kecil di dapur ternyata mampu menimbulkan dampak luas dan mengancam kepercayaan publik terhadap keseluruhan program.
Merespons hal ini, Dindikbud telah memerintahkan evaluasi menyeluruh serta pengetatan prosedur operasional standar dan pengawasan. Sekolah pun diminta untuk tidak bersikap pasif—guru maupun siswa didorong untuk selalu memeriksa makanan yang diterima sebelum dikonsumsi, sebagai bentuk pengawasan tambahan di lapangan.
Yudhie menegaskan, keberhasilan program MBG tidak hanya diukur dari seberapa banyak makanan yang tersalurkan, melainkan di atas segalanya: jaminan keamanan dan keselamatan pangan.
“Jika standar tidak dijaga dengan ketat, program ini perlahan tapi pasti akan kehilangan kepercayaan masyarakat. Respons cepat dan pengawasan tanpa kompromi adalah kunci utamanya,” ujarnya.
Insiden ini menjadi peringatan keras yang tak terbantahkan: program sebesar dan sepenting MBG tidak boleh dijalankan dengan mengabaikan hal-hal mendasar. Satu ekor lintah mati saja sudah cukup untuk mengguncang rasa aman ratusan siswa, sekaligus merusak citra program yang baru saja berjalan dan masih membutuhkan dukungan luas.
Laporan : Edvin
