. Foto : istimewa
YOGYAKARTA | kompasX.com— Pelepasan purna tugas biasanya identik dengan acara formal penuh sambutan dan seremoni. Namun suasana berbeda justru terasa di Concert Hall ISI Yogyakarta, Selasa (5/5/2026), saat Prof. Dr. I Wayan Dana, S.ST., M.Hum resmi memasuki masa purna tugas. Yang hadir bukan sekadar acara perpisahan seorang dosen, melainkan sebuah perayaan seni, budaya, persahabatan, dan penghormatan terhadap perjalanan panjang seorang maestro tari Indonesia.
Mengusung tema “Menyulam Gerak, Menarikan Zaman”, acara itu menjadi cerminan perjalanan hidup Prof. I Wayan Dana sendiri: tenang, reflektif, tetapi tetap penuh energi kreatif. Sejak siang hari, Concert Hall ISI Yogyakarta dipenuhi dosen, mahasiswa, seniman, budayawan, hingga sahabat dari berbagai daerah. Banyak yang datang bukan hanya untuk menghadiri acara resmi, tetapi untuk mengenang sosok guru yang selama puluhan tahun menjadi bagian penting perkembangan seni pertunjukan Indonesia.
Bagi banyak orang, Prof. I Wayan Dana bukan sekadar akademisi. Ia dikenal sebagai sosok yang mampu menjembatani tradisi dengan kehidupan modern tanpa kehilangan akar budaya. Dalam kelas, diskusi, maupun proses kreatif, ia selalu menekankan bahwa seni bukan hanya soal teknik dan estetika, tetapi juga tentang cara manusia menjaga identitas dan nilai budaya.
Rektor ISI Yogyakarta, Dr. Irwandi, M.Sn, dalam sambutannya menyebut Prof. Dana sebagai salah satu figur penting dalam perjalanan kampus seni tersebut. “ISI Yogyakarta sungguh berbangga memiliki sosok seperti Prof. Dana. Semoga purna tugas bukan akhir perjalanan berkarya, tetapi menjadi tonggak baru untuk terus berkontribusi bagi seni dan pendidikan,” ujarnya memberi pesan.
Ucapan itu terasa mewakili banyak orang yang pernah menjadi murid, kolega, maupun sahabat diskusi Prof. I Wayan Dana. Sosoknya dikenal rendah hati, terbuka, dan konsisten menjaga tradisi tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Mantan mahasiswa sekaligus koleganya yang kini menjadi Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta, Dr. Nyoman Cau Arsana, S.Sn., M.Hum, menyebut Prof. Dana sebagai jembatan antara teori dan praktik seni. “Beliau aktif menari, mencipta, meneliti, menulis, sekaligus mengajar. Konsistensinya itulah yang membuat namanya dihormati lintas generasi,” ungkapnya penuh haru.
Suasana acara pun terasa hangat sejak awal. Di berbagai sudut gedung, para tamu terlihat berbagi cerita tentang pengalaman mereka bersama Prof. Dana. Ada yang mengenang masa kuliah, proses latihan tari, hingga perjalanan pentas bersama di berbagai daerah.
Sajian Tari Menjadi Penghormatan Akhir
Acara pelepasan ini sendiri merupakan kolaborasi lintas unit di ISI Yogyakarta, mulai dari Jurusan Seni Tari, Tata Kelola Seni, hingga Program Pascasarjana. Kolaborasi itu terasa simbolis karena Prof. I Wayan Dana selama ini memang dikenal melampaui batas disiplin. Ia tidak hanya berbicara soal tari, tetapi juga pendidikan, tata kelola seni, hingga pemikiran budaya.
Begitu acara dimulai, suasana Concert Hall berubah khidmat. Tata panggung sederhana dengan pencahayaan hangat menghadirkan nuansa intim seperti perjalanan mengenang seorang guru.
Foto : tari Sekar pudyastuti
Rangkaian pertunjukan tari menjadi bagian paling memikat malam itu. Tari “Sekar Pudyastuti” sebagai persembahan pembuka dari Jurusan Tari ISI Yogyakarta tampil mengawali acara dengan gerak lembut dan penuh keteduhan. Setiap detail geraknya terasa seperti ungkapan hormat bagi seorang maestro yang telah mengabdikan hidupnya pada dunia seni.
Suasana kemudian berubah lebih dinamis lewat Tari Topeng “Pangelembar Keras” yang dibawakan Francis El Nathan Hardianto, penari cilik berusia 11 tahun didikan Prof. Dana. Penampilan itu seolah menjadi simbol estafet budaya dari generasi lama menuju generasi baru.
Penonton lalu dibawa pada suasana meriah melalui Tari “Janger Abhinaya”, garapan Ni Kadek Rai Dewi Astini, M.Sn dengan iringan Dr. Nyoman Cau Arsana, S.Sn., M.Hum. Aroma kuat budaya Bali terasa memenuhi ruangan, mengingat perjalanan artistik Prof. I Wayan Dana memang tak lepas dari akar budaya Pulau Dewata.
Di sela acara, suasana cair lewat penampilan duo komedian “Double S”, yaitu Dra. Trisno Tri Susilowati, S.Sn., M.Sn dan Dr. Trisna Pradipta Putra, S.Sos., M.M. Banyolan segar tentang kehidupan dosen, perjalanan akademik, hingga fenomena kekinian sukses membuat tamu undangan tertawa lepas.
Namun puncak emosional hadir ketika Prof. I Wayan Dana sendiri naik ke atas panggung. Di usia 70 tahun, ia membawakan Tari “Baris Solo” (Tunggal) yang terinspirasi dari tari sakral Baris Gede Bali yang biasa ditarikan 12-20 orang. Geraknya memang tak lagi secepat masa muda, tetapi justru di situlah kekuatannya. Setiap langkah terasa menyimpan pengalaman panjang, ketekunan, dan cinta yang mendalam terhadap seni.
Penonton terdiam. Beberapa terlihat menahan haru. Tari itu bukan lagi sekadar pertunjukan, tetapi seperti refleksi perjalanan hidup seorang seniman yang telah mendedikasikan dirinya bagi kebudayaan.
Buku 70 Tahun Berkarya
Momentum purna tugas itu juga ditandai peluncuran buku “Menyulam Gerak, Menarikan Zaman: Persembahan 70 Tahun Prof. Dr. I Wayan Dana, S.ST., M.Hum.” Buku tersebut ditulis oleh 44 penulis dari berbagai latar belakang, mulai akademisi, seniman, budayawan, sahabat, hingga murid-muridnya.
Lewat buku itu, pembaca dapat melihat luasnya pengaruh Prof. Dana dalam dunia seni pertunjukan Indonesia. Ada yang menulis tentang keteladanannya sebagai dosen, pemikirannya tentang tradisi dan modernitas, hingga sisi personalnya sebagai sahabat diskusi yahng hangat.
Selain buku, diluncurkan pula “Katalog Anotasi I Wayan Dana,” yang memuat dokumentasi karya, pemikiran, dan perjalanan akademiknya selama puluhan tahun. Bagi dunia akademik seni, dokumentasi seperti ini menjadi penting karena jejak pemikiran budaya sering kali tercecer dan hilang bersama waktu.
Koordinator Program Studi Magister Tata Kelola Seni ISI Yogyakarta, Dr. Mikke Susanto, M.A, menyebut Prof. Dana sebagai sosok lengkap: pengajar, seniman, sekaligus pemikir budaya. “Beliau adalah sumber pengetahuan dan tempat belajar mengenai budaya tradisi dan kebhinekaan,” katanya mengenang.
Salah satu hal yang membuat Prof. I Wayan Dana begitu dihormati adalah cara pandangnya terhadap tradisi. Di tengah perdebatan antara seni tradisi dan modern, ia justru menunjukkan bahwa keduanya tidak perlu dipertentangkan. Tradisi, baginya, bukan benda mati yang disimpan di museum, tetapi sesuatu yang harus hidup dan terus berdialog dengan zaman.
Karena itu, dalam karya maupun pemikirannya, Prof. Dana selalu berusaha menghadirkan tradisi agar tetap relevan dengan kehidupan hari ini. Sikap itu menjadi penting terutama bagi generasi muda yang hidup di tengah arus budaya populer global.
Purna tugas mungkin menandai berakhirnya masa pengabdian formal di kampus. Namun bagi seorang seniman dan guru besar seperti Prof. Dr. I Wayan Dana, S.ST., M.Hum., warisan gagasan tak pernah benar-benar selesai. Ia akan terus hidup lewat karya, murid-muridnya, serta nilai budaya yang telah ia tanamkan selama puluhan tahun.
Di akhir acara, tepuk tangan panjang menggema memenuhi Concert Hall, ISI Yogyakarta. Banyak yang berdiri memberikan penghormatan terakhir kepada sang guru besar. Yang terasa malam itu bukanlah perpisahan, melainkan kesinambungan. Bahwa gerak yang telah disulam selama puluhan tahun itu akan terus menari dalam perjalanan seni dan kebudayaan Indonesia.
TEKS:
Ki Arya Pandhu
Budayawan, tinggal di Yogyakarta.
FOTO-FOTO:
Dok. Prodi Tata Kelola Seni, ISI Yogyakarta.
(Red / Johnson)