Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Dari 28 Tahun di BUMN hingga Praktisi Ruqyah: Kisah Zubaidi dan Mimpinya Mendirikan Rumah Rehabilitasi Jiwa

Kamis, Juli 23, 2026 | Juli 23, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-07-23T00:12:05Z
.                       foto : istimewa 
BANTUL | kompasX.com — Setiap orang memiliki jalan tersendiri dalam mendedikasikan hidupnya untuk sesama. Hal ini dibuktikan oleh Zubaidi, S.Pd.I., pria asli Dlingo, Bantul, yang kini mendedikasikan dirinya sebagai tenaga terapi ruqyah dan thibbun nabawi di Klinik Komplementer Rumah Sakit Nur Hidayah, Bantul.

Sebelum melakoni profesinya saat ini, Zubaidi merupakan seorang pegawai di perusahaan milik negara (BUMN) Persero yang bergerak di bidang pergudangan dan logistik dengan masa kerja mencapai 28 tahun. Setelah mengabdi sekian lama, ia memutuskan untuk mengambil pensiun dini pada tahun 2022 seiring adanya kebijakan penggabungan (merger) perusahaan.

Beralih Fokus ke Pengobatan Syariah

Keputusan pensiun dini menjadi titik balik bagi pria berusia 56 tahun tersebut untuk lebih fokus pada bidang penanganan kesehatan berbasis syariat Islam. Keterampilannya dalam pengobatan thibbun nabawi—seperti bekam dan ruqyah—sebenarnya sudah ia pelajari dan praktikkan sejak masih aktif bekerja.

Perjalanan belajarnya mendalami ilmu ini tidaklah singkat. Zubaidi mengawali pendidikannya di Jakarta di bawah bimbingan Ustaz Azib Susiyanto untuk mempelajari teknik bekam sayat (Oxidant Drainage Therapy / ODT). Ia kemudian bergabung dengan Quranic Healing Indonesia (QHI) bersama Ustaz Junaedi dan Ustaz Perdana Ahmad, serta melanjutkannya ke komunitas Ruqyah Learning Center (RLC) dan pendiri Rehab Hati, Ustaz Nuruddin Al-Indunissy (Ustaz NAI).

Saat ini, Zubaidi terdaftar resmi dalam Asosiasi Ruqyah Syar'iyyah Indonesia (ARSI) Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Layanan Holistik dan Kolaborasi Medis

Ketika ditanya mengenai pentingnya metode pengobatan ruqyah, Zubaidi menjelaskan bahwa permasalahan kesehatan yang dihadapi masyarakat sangat beragam, meliputi gangguan medis, non-medis, hingga masalah psikis.

"Di dunia ini orang melihat adanya sakit medis, non-medis, maupun psikis. Jika ada indikasi gangguan non-medis atau psikis, penanganannya dapat dilakukan melalui terapi ruqyah Al-Qur'an, serta berkolaborasi dengan dokter kejiwaan, dokter bedah, psikolog, maupun dokter spesialis lainnya," terang Zubaidi.

Sebagai praktisi di Poli Komplementer RS Nur Hidayah Bantul—tempat ia telah bertugas selama lebih dari tiga tahun—Zubaidi mengimbau masyarakat yang mengalami keluhan baik gangguan medis maupun non-medis untuk tidak ragu berkonsultasi. Ia menegaskan bahwa RS Nur Hidayah siap memberikan penanganan secara intensif, komprehensif, serta holistik.

Mimpi Besar: Mendirikan Rumah Rehabilitasi Gangguan Jiwa

Tidak berhenti pada aktivitas terapi harian di rumah sakit, Zubaidi menyimpan asa dan cita-cita mulia untuk masa depan kesehatan mental umat. Ia memiliki mimpi besar untuk mendirikan dan mengelola sebuah pusat rehabilitasi bagi penderita gangguan jiwa.

"Saya punya mimpi besar untuk mendirikan dan mengelola rumah rehabilitasi untuk saudara-saudara kita yang mengalami gangguan jiwa. Konsepnya adalah kolaborasi terpadu antara terapi Thibbun Nabawi dengan pengobatan konvensional modern," ungkap Zubaidi penuh optimisme.

Melalui integrasi antara pendekatan medis modern dan metode thibbun nabawi, ia berharap rumah rehabilitasi tersebut nantinya dapat menjadi wadah pemulihan yang efektif dan penuh kasih bagi para penderita gangguan jiwa.

(Red / Erwin)
×
Berita Terbaru Update