YOGYAKARTA | KompasX.com..,,,Di balik setiap gerakan tari yang anggun, tersimpan kisah panjang tentang perjuangan, ketekunan, dan cinta yang mendalam terhadap seni budaya. Kisah itu hadir dalam perjalanan hidup Sri Anjani Dewi, seorang perempuan tangguh yang memilih mengabdikan dirinya sebagai penari, guru seni, sekaligus pendiri sanggar tari yang menjadi rumah bagi lahirnya generasi-generasi pecinta budaya.
Sejak mengenal dunia seni tari, Sri Anjani Dewi menyadari bahwa tarian bukan hanya tentang keindahan gerak tubuh, tetapi juga tentang nilai, karakter, dan pesan kehidupan. Dari panggung ke panggung, dari proses belajar hingga mengajar, ia terus menapaki perjalanan panjang dengan keyakinan bahwa seni harus diwariskan, bukan sekadar ditampilkan.
Dengan semangat yang kuat dan kecintaan yang besar terhadap budaya, Sri Anjani Dewi kemudian membangun ruang bagi anak-anak muda untuk belajar dan berkembang. Perjuangan itu diwujudkan dengan mendirikan tiga sanggar tari, yaitu Sanggar Pramudhita, Krisdaaswapraanjani, dan Sanggar Praanjani.
Mendirikan sanggar bukanlah perjalanan yang mudah. Ada banyak tantangan yang harus dilewati, mulai dari membangun kepercayaan, membimbing para murid, hingga menjaga semangat agar seni tetap hidup di tengah perubahan zaman. Namun, bagi Sri Anjani Dewi, setiap tantangan adalah bagian dari proses pengabdian.
Sebagai seorang guru, ia tidak hanya mengajarkan teknik tari, tetapi juga membentuk pribadi para siswanya. Ia mengajarkan bahwa seorang penari harus memiliki kedisiplinan, kerendahan hati, rasa tanggung jawab, dan kecintaan terhadap budaya bangsa.
Bagi anak-anak didiknya, Sri Anjani Dewi bukan sekadar seorang pelatih tari. Ia adalah sosok pendamping, motivator, dan inspirasi yang selalu mendorong mereka untuk berani bermimpi dan berkarya.
Tiga sanggar yang ia dirikan kini menjadi bukti nyata dari perjuangannya. Setiap latihan, setiap pertunjukan, dan setiap langkah para penari muda adalah bagian dari jejak pengabdian yang ia tanamkan.
Sri Anjani Dewi membuktikan bahwa sebuah perjuangan yang dilakukan dengan hati mampu melahirkan perubahan besar. Ia tidak hanya menjaga seni tari agar tetap hidup, tetapi juga menyalakan semangat generasi muda untuk mencintai budaya.
Baginya, menari adalah bahasa jiwa, mengajar adalah bentuk pengabdian, dan melestarikan budaya adalah warisan yang harus terus diperjuangkan. Sri Anjani Dewi adalah sosok perempuan yang membuktikan bahwa ketulusan, kerja keras, dan kecintaan terhadap seni mampu meninggalkan jejak yang bermakna bagi banyak orang.
(Johnson)
