BANTUL | KompasX.com— Dinas Sosial DIY melalui Bidang Pemberdayaan Sosial (Dayasos) menggelar acara Sarasehan Penguatan Nilai-Nilai Kesetiakawanan Melalui Restorasi Sosial Berbasis Budaya Jawa Mewujudkan Kesejahteraan Sosial bertempat di Pendopo Balai Budaya Kalurahan Gilangharjo, Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul, Selasa (4/8/2026) pagi. Foto : istimewa
Kegiatan yang dimulai pukul 08.30 WIB tersebut dipandu oleh moderator Sulastri dari Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) dan dihadiri oleh 60 orang peserta dari berbagai unsur strategis masyarakat.
Sasaran peserta yang diundang meliputi unsur pimpinan Kapanewon dan Forkopimcam (Panewu, Danramil, Kapolsek, Babinkamtibmas, Babinsa), Pemerintah Kalurahan (Lurah, Perangkat Kalurahan, Dukuh, RT/RW), hingga lembaga kalurahan seperti Bamuskal, LKMKal, PKK, dan Karang Taruna.
Selain itu, turut hadir pilar-pilar sosial—seperti Pekerja Sosial Masyarakat (PSM), TAGANA, WKSBM, Pelopor Perdamaian (Pordam), serta pendamping sosial dan PSKS lainnya—bersama tokoh wanita, tokoh pemuda, tokoh agama, tokoh budaya, tokoh masyarakat, Pensosmas, dan TKSK.
Acara sarasehan ini menghadirkan tiga narasumber utama, yaitu H. Sigit Nursyam Priyanto, S.Si, M.Ec.Dev (Anggota DPRD DIY Fraksi PKS), Ki Abeje Janoko (Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa), serta Maya Kartika Sari, S.Sos, M.Sc (Penyuluh Sosial Dinsos DIY).
Foto : istimewaDalam paparannya, Anggota DPRD DIY, H. Sigit Nursyam Priyanto, S.Si, M.Ec.Dev, menegaskan bahwa kampanye restorasi sosial ini merupakan langkah awal dari proses panjang membangun karakter bangsa. Kampanye ini diharapkan menjadi acuan program yang dapat dipelajari dan diterapkan di lembaga BKB, PAUD, hingga lembaga kemasyarakatan lainnya.
"Tujuan utamanya adalah agar tatanan adiluhung benar-benar tercipta secara berkelanjutan. Melalui kampanye ini, kita bangun jejaring sosial komunitas yang menjadi 'bengkel karakter' untuk menerapkan nilai Memayu Hayuning Bawana. Hal itu bisa diwujudkan dalam bentuk nyata, seperti pengelolaan sampah berbasis komunitas hingga penanaman pohon, yang berujung pada aksi sosial nyata," ujar Sigit.
Foto : istimewaIa menambahkan, program ini diharapkan dapat makin menegaskan keistimewaan DIY. "Harapan kita, jika orang bertanya apa istimewanya Jogja, jawabannya adalah istimewa orangnya, istimewa nilai luhurnya, istimewa budi pekertinya, dan istimewa aksi sosialnya," tambahnya.
Sementara itu, Ki Abeje Janoko memaparkan pentingnya penanaman nilai unggah-ungguh (tata krama), gotong royong, hingga budi pekerti bagi seluruh elemen masyarakat dari tingkat pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Ia juga menekankan bahwa penguatan nilai-nilai kebudayaan ini beririsan erat dengan program Pendidikan Khas Kejogjaan yang telah resmi diluncurkan oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, pada 4 Mei 2026 lalu.
Foto : istimewa"Ada hubungan yang luar biasa dan tidak bisa dipisahkan antara restorasi sosial dengan Pendidikan Khas Kejogjaan. Keduanya saling menguatkan dalam membentuk karakter serta budi pekerti masyarakat," jelas Ki Abeje.
Melalui sinergi antara legislatif, pemerintah, pilar-pilar sosial, dan tokoh masyarakat ini, diharapkan kegiatan sarasehan dapat terus memupuk rasa kesetiakawanan sosial masyarakat berbasis akar budaya Jawa.
(Erwin)





