BANTUL | kompasX.com..
Lahan seluas 150 hektar milik Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) Universitas Gadjah Mada (UGM) yang terletak di Dusun Banyusumurup, Girirejo, Imogiri, terus memantapkan perannya sebagai pusat edukasi dan penelitian lapangan. Namun, di balik potensi pengembangan agrowisata yang besar, kawasan ini masih dibayangi kendala infrastruktur dan gangguan polusi asap dari lingkungan sekitar.
Parijan, salah satu pengelola lapangan di lokasi tersebut, mengungkapkan bahwa lahan ini merupakan ekosistem pertanian terpadu yang sangat kompleks. Saat ini, kawasan tersebut didominasi oleh tanaman industri dan budidaya seperti pohon karet, kayu putih, hingga area persawahan dan palawija.
"Setiap hari area ini tidak pernah sepi. Ada mahasiswa yang melakukan penelitian, serta siswa SMK yang menjalani praktik kerja lapangan (PKL) maupun magang," ujar Parijan saat ditemui di kantornya.
Tantangan Infrastruktur
Meskipun menjadi pusat aktivitas akademik, aksesibilitas di dalam lahan seluas ratusan hektar tersebut masih menjadi catatan. Menurut Parijan, kondisi jalan menuju bagian dalam lahan masih kurang memadai. Hal ini dinilai menghambat efektivitas pemantauan tanaman serta mobilitas para peneliti yang bertugas di lapangan.
Pembangunan jalan yang lebih layak dianggap krusial jika PIAT UGM berencana meningkatkan status kawasan ini dari sekadar lahan praktik menjadi destinasi wisata edukasi yang nyaman bagi masyarakat umum.
Ancaman Polusi Asap
Masalah yang paling mendesak saat ini bukanlah pada teknis pertanian, melainkan faktor eksternal berupa polusi udara. Parijan mengeluhkan aktivitas pembakaran sampah oleh pihak luar yang lokasinya berdekatan dengan area perkantoran PIAT.
"Polusi asap ini sangat mengganggu aktivitas perkantoran. Baunya menyengat dan tidak sehat," tegasnya. Ia menambahkan bahwa upaya teguran telah dilakukan berulang kali, namun hingga kini belum ada solusi konkret atau kesadaran dari pelaku pembakaran untuk menghentikan aktivitas tersebut.
Masa Depan Agrowisata
Ke depan, Parijan berharap ada sinergi yang lebih kuat antara pihak universitas dan pemerintah setempat untuk mempromosikan lahan ini secara lebih luas. Dengan tata kelola yang tepat, lahan Banyusumurup berpotensi menjadi ikon wisata baru di Bantul yang menggabungkan aspek alam dan ilmu pengetahuan.
"Pesan saya, semoga ada pembangunan jalan yang lebih baik dan promosi yang masif agar tempat ini bisa benar-benar menjadi destinasi kunjungan wisata yang unggul," pungkasnya.
(Red/Erwin)