Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Menjemput Jati Diri Lewat Surjan : Misi Budaya Saifudin Yuhri Hafid di Jantung Yogyakarta

Sabtu, Januari 24, 2026 | Januari 24, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-24T00:35:26Z

SLEMAN | kompasX.com

 Di sebuah sudut di kawasan Nusupan, Trihanggo, kesibukan tak biasa mulai terlihat. Bukan deru mesin atau hiruk-pikuk modernitas, melainkan sebuah upaya sunyi namun bertenaga untuk merawat ingatan bangsa. Di sanalah, Saifudin Yuhri Hafid memimpin sebuah gerakan yang ia beri nama Komunitas Pria Bersurjan.
Bagi Saifudin, surjan bukan sekadar lembaran kain bermotif lurik atau bunga. Saat ia mengenakannya, ada beban sejarah dan martabat yang ikut tersampir di bahu.
"Mengenakan surjan itu soal rasa," ungkap Saifudin saat ditemui di basecamp komunitasnya yang berlokasi di Gamping, Sleman. "Ini adalah 'Busana Takwa'. Sebuah warisan dari Sunan Kalijaga yang mengajarkan kita tentang kesantunan dan kerendahan hati."
Melawan Arus Zaman
Di tengah kepungan tren fast fashion dan budaya luar, Saifudin Yuhri Hafid merasa ada yang hilang dari identitas pria masa kini: Karakter. Melalui komunitas ini, ia ingin mendobrak pakem bahwa surjan hanya layak keluar dari lemari saat ada hajatan atau upacara keraton saja.
Ia memimpikan sebuah hari di mana pria Jawa bangga mengenakan surjan saat berbelanja, bekerja, atau sekadar bercengkrama di ruang publik. Baginya, ini adalah bentuk "normalisasi" budaya agar tidak asing di rumah sendiri.
Lebih dari Sekadar Pakaian
Di bawah kepemimpinan Saifudin, Komunitas Pria Bersurjan menjalankan tiga misi besar:
Edukasi Literasi: Membedah sejarah dan pakem penggunaan surjan agar tidak salah kaprah.
Ruang Solidaritas: Menjadi wadah bagi pria dari berbagai profesi—mulai dari buruh hingga pejabat—untuk duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dalam balutan surjan.
Benteng Budaya: Memastikan generasi muda tidak merasa asing dengan identitas kakek moyangnya.
Rumah Bagi Pelestari Budaya
Kini, bagi siapa saja yang ingin mendalami filosofi surjan atau sekadar ingin belajar cara mengenakannya dengan benar, pintu basecamp di Nusupan, Trihanggo, Gamping selalu terbuka lebar.
Saifudin menutup perbincangan dengan sebuah pesan yang menggetarkan. "Budaya adalah benteng terakhir kita. Jika hari ini kita malu mengenakan surjan, jangan salahkan anak cucu kita jika kelak mereka hanya bisa melihatnya di balik kaca museum," ujarnya menutup percakapan

(Red/Erwin).
×
Berita Terbaru Update