Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Demokrasi "Tong Sampah": Ketika Separuh Suara Rakyat Berakhir di Lubang Sia-Sia

Rabu, Februari 11, 2026 | Februari 11, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-02-11T11:46:55Z
.                     foto : istimewa

JAKARTA | kompasX.com., (11 februari 2026)
Kita selalu didoktrin bahwa "satu suara sangat berharga." Setiap lima tahun, kita dipaksa mengantre di bawah terik matahari, mempertaruhkan kerukunan tetangga, hanya untuk memberikan mandat pada secarik kertas.

Tapi mari kita buka topeng dramatisasi itu dan melihat kenyataan pahit yang disembunyikan angka.

Apakah Anda sadar bahwa kotak suara kita sebenarnya lebih mirip tong sampah raksasa daripada instrumen perubahan?

Skandal Angka yang Membagongkan
Mari kita bicara data, bukan retorika:

*Pemilu 2019*: Dari 139,9 juta orang yang datang ke TPS dengan harapan di pundak, hanya 82,8 juta (59,17%) suara yang diakui. Sisanya? 57 juta suara lenyap.

*Pemilu 2024*: Polanya semakin gila. Dari 151,7 juta pemilih, hanya 91,1 juta yang dinyatakan sah. Ada sekitar 60 juta suara yang dianggap angin lalu.

Bayangkan ini: Hampir separuh dari rakyat yang bersusah payah datang ke TPS, suaranya berakhir "hangus". Jika ini adalah sebuah bisnis, perusahaan ini sudah bangkrut karena membuang 40-50% bahan bakunya ke selokan.

Di Mana Suara Itu "Dibakar"?
Kenapa suara Anda bisa hangus? 

Ada dua "pembunuh" utama aspirasi rakyat:

*Parliamentary Threshold (Ambang Batas Parlemen)*: Ini adalah mesin penggiling suara paling kejam. Anda memilih partai kecil karena percaya pada visinya? Jika mereka tidak tembus 4%, suara Anda dibuang ke tempat sampah. Jutaan orang memilih, tapi pilihan mereka dianggap tidak ada hanya karena aturan main yang dibuat oleh partai-partai raksasa untuk melanggengkan kekuasaan mereka sendiri.

*Surat Suara Tidak Sah*: Apakah rakyat yang bodoh karena salah mencoblos, atau sistemnya yang terlalu rumit dengan kertas suara sebesar koran? Ketika jutaan suara dinyatakan tidak sah secara teknis, itu bukan kesalahan pemilih—itu adalah kegagalan sistem edukasi dan desain pemilu.

Jika hampir separuh suara tidak terkonversi menjadi kursi atau perwakilan, apakah kita masih bisa menyebut ini "pemerintahan dari rakyat"?
Yang kita miliki sekarang adalah Demokrasi Elit. Kita disuruh datang ke TPS hanya untuk melegitimasi kursi mereka, sementara aspirasi kita yang tidak sesuai dengan "skema angka" mereka dibuang tanpa sisa. Kita bukan sedang memilih pemimpin; kita sedang berpartisipasi dalam ritual pemborosan kertas berskala nasional.

Setiap suara yang hangus adalah pengkhianatan terhadap konstitusi. Jika tren ini berlanjut, jangan salahkan rakyat jika suatu saat mereka bertanya: "Untuk apa mencoblos, jika ujung-ujungnya hanya jadi sampah statistik?"

11.02.2026
-Hanurani-
WaSekjen DPP Partai HANURA

(Red/Erwin)
×
Berita Terbaru Update