IMOGIRI, BANTUL | kompasX.com – Suasana khidmat dan penuh kekeluargaan menyelimuti Padepokan Sendang Wangi yang berlokasi di Gunung Plencing, RT 02, Sindet, Wukirsari, Imogiri, Bantul, pada hari ini. Paguyuban Pria Bersurjan bersama komunitas Dalang Cilik mengadakan acara silaturahmi sebagai wujud nyata gerakan nguri-uri (melestarikan) budaya Jawa.
Sinergi Tokoh Budaya dan Visi "Tata" Jawa
Acara ini mendapat dukungan penuh dari Ir. KP. Nurdiantoro Darmaningrat selaku pemilik sekaligus CEO Padepokan Sendang Wangi. Beliau menekankan pentingnya mengimplementasikan lima pilar pelestarian budaya: Tata Laku, Tata Busana, Tata Boga, Tata Wicara, dan Tata Wewangunan (arsitektur) sebagai pijakan jati diri generasi muda.
Ketua Paguyuban Pria Bersurjan, Bapak Saifudin, menyatakan rasa syukurnya atas kelancaran acara ini. "Kami sangat berterima kasih kepada Kanjeng Pangeran Nurdiantoro yang sangat suportif. Harapannya, komunitas ini bisa menjadi wadah nyata untuk memajukan budaya, agar tidak diklaim oleh pihak atau negara lain," ujar Bapak Saifudin dalam wawancaranya.
Surjan: Lebih dari Sekadar Pakaian
Bapak Saifudin menjelaskan bahwa bergabung dengan Paguyuban Pria Bersurjan bukan hanya tentang mengenakan busana tradisional. Komunitas yang resmi berdiri pada 18 Januari 2026 ini memiliki berbagai program positif:
Bakti Sosial: Aksi kemanusiaan untuk masyarakat.
Pemberdayaan UMKM: Mendukung ekonomi kreatif berbasis budaya.
Seni & Budaya: Mulai dari seni pertunjukan hingga produksi sinematografi/shooting.
Bapak Wimbardi JP, pemerhati budaya, juga menambahkan bahwa desain Surjan memiliki nilai estetika tinggi yang bahkan menginspirasi desainer internasional di Eropa dan Amerika.
Simbolisme Estafet dan Terbuka untuk Umum
Momen puncak acara ditandai dengan pemakaian baju Surjan secara simbolis kepada generasi muda, yaitu Mas Saka dan Mas Bagas, oleh Bapak Saifudin dan Ir. KP. Nurdiantoro. Penampilan dongeng "Kanjeng Sunan Kalijaga" oleh Mas Saka dan aksi dalang cilik oleh Mas Bagas semakin menambah kemeriahan acara.
Bapak Saifudin juga mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bergabung tanpa memandang latar belakang. "Kami terbuka untuk siapa saja, tidak memandang ras, suku, agama, maupun partai politik. Yang penting ada niat ikhlas untuk nguri-uri budaya bersama," pungkasnya.
Ramah Tamah dan Penutup
Rangkaian acara diakhiri dengan sesi Sarasehan (obrolan santai) dan doa bersama, mempertegas komitmen komunitas untuk terus menjaga persatuan bangsa melalui jalur kebudayaan.
(Red/Erwin)