![]() |
| Foto : Kasad Reskrim Polres Blora AKP Zaenul Arifin Ketika Menunjukan Barang Bukti yang di sita. |
Cerita dimulai Kamis malam (9/4/2026) di sekitar Pasar Jepon. Mata polisi langsung melotot lihat mobil pikap Mitsubishi L300 warna hitam yang lewat. Kenapa? Bak belakangnya kayak orang habis makan nasi padang berlebih—perutnya buncit banget sampai roda kayak mau nyentuh aspal, terus ditutup rapat pakai terpal kayak mau sembunyiin harta karun.
Begitu dihentikan dan dibuka penutupnya... DOR! Isinya bukan beras, bukan sayur, tapi deretan tabung gas yang jumlahnya sampai ratusan. Kayak gudang gas keliling deh pokoknya! Padahal barang ini kan khusus buat masyarakat yang butuh, bukan buat jadi komoditas cari cuan sembarangan.
Kapolres Blora, Wawan Andi Susanto, bilang pelaku yang berinisial FS (38) ini jujur-jujur saja. Dia ngaku beli barangnya di Tuban, terus mau dijual lagi di Blora dengan harga lebih mahal. Modal nekat doang, pikirnya cuma pakai terpal aja udah aman dari pengawasan.
"Masya Allah, ini gas subsidi ya, bukan barang dagangan bebas! Kalau semua orang main ambil gini, warga kecil mau makan apa? Mau masak pakai api dari jari gitu?" celetuk Pak Kapolres sambil geleng-geleng kepala.
MODUS KUNO, DAMPAKNYA GAK MAIN-MAIN
Jurusnya sederhana banget: tutup pakai terpal, jalan malam-malam, berharap petugas gak curiga. Eh tapi namanya juga polisi, mata mereka kayak radar—yang aneh sedikit langsung ketahuan.
Dari hitungan kasar, kerugian negara dari selisih subsidi cuma sekitar Rp3,8 juta. Tapi dampaknya? Jauh lebih parah! Akibat ulah orang macam ini, gas jadi langka, harga di pasar melonjak, dan ibu-ibu rumah tangga sampai harus berhitung ulang anggaran belanja. Yang untung cuma segelintir orang, yang rugi ratusan ribu warga.
BAYANGKAN SAJA: DENDA SAMPAI 60 MILIAR!
Sekarang nasib Pak FS lagi di ujung tanduk. Dia dijerat UU Migas yang sudah diperbarui, dan hukumannya bikin merinding:
- Bisa dipenjara sampai 6 tahun (cukup lama buat merenung dan belajar bisnis yang halal)
- Denda maksimal Rp60 MILIAR!
Woy, itu uang kalau dipakai beli gas melon bisa sampai ribuan tabung! Mau bayar pakai apa coba? Jual rumah, jual mobil, jual sawah, masih kurang mungkin. Ini jadi pelajaran mahal banget ya, untung yang didapat kecil, tapi resikonya sebesar gunung Merapi.
APA ADA JARINGAN LEBIH BESAR?
Kasus ini belum selesai sampai di sini. Polisi sekarang lagi ngedig lebih dalam, siapa tahu Pak FS ini cuma kuli angkut saja, di belakangnya ada bos besar yang juga main curang. Kalau ternyata ada jaringan, siap-siap deh banyak yang ikut terperosok.
PESAN BUAT YANG LAIN: JANGAN COBA-COBA!
Kejadian ini jadi peringatan keras: barang subsidi itu titipan negara buat rakyat, bukan ladang uang buat orang serakah. Di tengah harga kebutuhan yang lagi naik-naiknya, ulah kayak ini ibarat nambah beban orang lain.
Satu orang sudah ketangkap. Pertanyaannya: masih ada berapa lagi yang lagi beraksi, ngira-ngira polisi gak lihat? Ingat, yang namanya aksi curang, lama-lama pasti ketahuan juga!
Laporan : Budi
