Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Heboh! RINA SA'ADAH BAWA JERIT PETANI TEBU BLORA KE MEJA MENTERI PERTANIAN, NASIB PG GMM JADI SOROTAN NASIONAL

Kamis, Juni 11, 2026 | Juni 11, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-11T14:48:00Z

Foto : Rina Sa'adah, Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PKB, Rina & Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman. tindak lanjut dari audiensi Paguyuban Petani Tebu Kabupaten Blora di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (10/6/2026).
JAKARTA | KompasX.com – Persoalan terhentinya operasional Pabrik Gula PT Gendhis Multi Manis (PG GMM) di Kabupaten Blora kini menembus panggung nasional. Aspirasi ribuan petani tebu yang selama ini mengeluhkan dampak berhentinya aktivitas pabrik akhirnya sampai langsung ke meja Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman.


Perjuangan tersebut dibawa oleh Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PKB, Rina Sa'adah, yang secara langsung menyampaikan kondisi para petani tebu Blora kepada Menteri Pertanian sebagai tindak lanjut dari audiensi Paguyuban Petani Tebu Kabupaten Blora di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (10/6/2026).


Langkah ini menjadi angin segar bagi para petani yang selama beberapa waktu terakhir menghadapi ketidakpastian akibat berhentinya operasional PG GMM, pabrik gula yang selama ini menjadi tulang punggung sektor pergulaan di Kabupaten Blora.


Dalam pertemuan tersebut, para petani memaparkan berbagai dampak yang mereka rasakan. Tidak hanya menyangkut hasil panen, tetapi juga menyentuh kehidupan ribuan masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas industri gula.


Rina Sa'adah menegaskan bahwa persoalan PG GMM bukan lagi sekadar masalah perusahaan, melainkan telah berkembang menjadi persoalan ekonomi rakyat yang memerlukan perhatian serius pemerintah.


"Ketika pabrik berhenti beroperasi, yang terdampak bukan hanya petani tebu. Ada buruh, sopir, tenaga angkut, pedagang kecil, hingga berbagai sektor ekonomi lainnya yang ikut merasakan dampaknya," ujar Rina.


Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan efek domino terhadap perekonomian daerah apabila tidak segera ditangani melalui langkah-langkah konkret dan terukur.


Salah satu persoalan yang paling dirasakan petani saat ini adalah meningkatnya biaya distribusi karena hasil panen harus dikirim ke pabrik gula di luar daerah. Selain menambah biaya operasional, kondisi itu juga berisiko menurunkan kualitas tebu dan mengurangi nilai rendemen yang menjadi sumber pendapatan petani.


Atas dasar itu, Rina mendesak pemerintah pusat bersama seluruh pemangku kepentingan untuk segera mencari solusi yang mampu memberikan kepastian bagi petani tebu Blora.


Sebagai anggota Komisi IV DPR RI yang membidangi sektor pertanian, Rina menegaskan komitmennya untuk terus mengawal persoalan tersebut melalui fungsi pengawasan parlemen dan koordinasi dengan Kementerian Pertanian, Perum Bulog, serta instansi terkait lainnya.


Respons cepat yang dilakukan Rina mendapat apresiasi dari kalangan petani. Koordinator Audiensi Petani Tebu Blora, Exi Wijaya, menyampaikan harapannya agar komunikasi yang telah dibangun dengan Menteri Pertanian segera menghasilkan langkah nyata.


"Kami berharap pemerintah segera mengambil tindakan konkret. Petani saat ini membutuhkan kepastian agar tidak terus menanggung kerugian akibat persoalan yang terjadi di luar kemampuan mereka," ujar Exi.


Apresiasi serupa juga disampaikan Ketua Paguyuban Petani Tebu Blora, Anton Sudibyo. Menurutnya, langkah yang dilakukan Rina Sa'adah menunjukkan bahwa suara petani akhirnya mulai mendapat perhatian serius di tingkat nasional.


"Kami berterima kasih atas perjuangan yang telah dilakukan. Harapan kami, perhatian ini dapat diwujudkan dalam kebijakan yang benar-benar melindungi petani tebu dan menjaga keberlangsungan usaha mereka," katanya.


Kini harapan para petani tertuju pada langkah lanjutan pemerintah pusat. Mereka berharap persoalan PG GMM dapat segera diselesaikan sehingga hasil panen tetap terserap, aktivitas ekonomi kembali bergerak, dan ribuan keluarga yang bergantung pada industri gula tidak terus hidup dalam ketidakpastian.


Bagi petani tebu Blora, perjuangan belum selesai. Namun ketika aspirasi mereka telah sampai ke tingkat kementerian, secercah harapan mulai terlihat bahwa solusi yang selama ini dinanti tidak lagi sekadar janji, melainkan dapat segera menjadi kenyataan.

Laporan : Sari

×
Berita Terbaru Update