MOJOKERTO|kompasX.com, 3 Oktober 2026 — Pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas. Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Swasta Kabupaten Mojokerto meluncurkan dua gerakan pendidikan berbasis lingkungan dan budaya: Gerakan Sekolah Sadar Menanam dan Sekolah Membangun Budaya (SEMBADA).
Peluncuran berlangsung di Gedung SMP Islam Darus Shalawat Mojokerto, Sabtu (3/10/2026), dan dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Mojokerto, Amsar Azhari Siregar, S.H., M.M.
Foto : istimewaGerakan Sekolah Sadar Menanam mengusung tema “Menanam Hari Ini, Menuai Kehidupan Esok Hari.” Sebanyak 84 SMP swasta di Kabupaten Mojokerto masing-masing akan memperoleh 100 bibit tanaman. Dengan demikian, total target gerakan mencapai 8.400 pohon.
Ketua MKKS SMP Swasta Kabupaten Mojokerto, Miftahul Arifin, M.Pd.I., mengatakan gerakan tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial menanam pohon, tetapi menjadi bagian dari pembentukan kebiasaan siswa untuk peduli terhadap lingkungan.
“Sekolah bukan hanya tempat untuk membangun kecerdasan akademik. Sekolah juga harus menjadi tempat tumbuhnya kepedulian terhadap lingkungan dan kehidupan,” demikian pesan yang menjadi semangat gerakan tersebut.
Foto : istimewaSEMBADA: Budaya Jawa Masuk ke Keseharian Siswa
Selain penghijauan, MKKS SMP Swasta Kabupaten Mojokerto juga meluncurkan SEMBADA atau Sekolah Membangun Budaya.
Program ini mendorong sekolah membiasakan siswa mengenakan busana adat Jawa dan menggunakan bahasa Jawa minimal satu kali dalam sepekan di lingkungan sekolah.
SEMBADA dirancang agar budaya Jawa tidak sekadar hadir dalam acara seremonial, tetapi menjadi bagian dari keseharian siswa. Bahasa, busana, dan nilai budaya diperkenalkan melalui pembiasaan yang berlangsung secara konsisten.
Dua gerakan tersebut membawa pesan yang sama: pendidikan harus mampu membentuk pengetahuan, karakter, kepedulian lingkungan, sekaligus kesadaran budaya.
84 Sekolah, 8.400 Pohon, Satu Gerakan
Gerakan 8.400 pohon menjadi simbol bahwa perubahan dapat dimulai dari lingkungan sekolah.
Setiap bibit yang ditanam diharapkan menjadi bagian dari ruang belajar hidup bagi siswa. Mereka tidak hanya melihat proses pertumbuhan tanaman, tetapi juga belajar mengenai tanggung jawab, keberlanjutan, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Sementara melalui SEMBADA, siswa diajak mengenal kembali identitas budaya melalui praktik sederhana yang dilakukan secara rutin.
Peluncuran kedua program tersebut turut dihadiri jajaran Dinas Pendidikan Kabupaten Mojokerto, Kepala Departemen Agama Kabupaten Mojokerto H. Muttaqin, M.Ag. beserta jajaran, serta Pengasuh Ponpes Darus Shalawat K.H. Ahmad Maksum Amin bersama Bu Nyai Hj. Khoirul Nisa.
MKKS SMP Swasta Kabupaten Mojokerto menempatkan dua program ini sebagai bagian dari upaya memperluas makna pendidikan.
Pohon ditanam untuk menjaga masa depan. Budaya dihidupkan untuk menjaga identitas. Dan sekolah menjadi ruang tempat keduanya tumbuh bersama.
(Johnson)


