MAGELANG|KompasX.com,,, 24 Oktober 2026 — Industri perfilman Indonesia kembali menghadirkan warna berbeda melalui film drama komedi terbaru bertajuk Piye To Kih?, sebuah karya kolaborasi Miracle Pictures bersama kreator lokal Woko Channel. Mengusung perpaduan komedi absurd, romansa, drama emosional, dan unsur supranatural, film ini menawarkan kisah cinta yang tak biasa, dibalut humor khas Jawa yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Judul Piye To Kih?, yang dalam bahasa Indonesia bermakna “Bagaimana sih ini?”, merepresentasikan kebingungan, keheranan, sekaligus situasi tak terduga yang menjadi benang merah cerita. Film ini tidak sekadar mengandalkan kelucuan, tetapi juga berupaya menyentuh sisi emosional penonton melalui kisah cinta lintas alam yang penuh konflik dan kejutan.
Foto : istimewaCinta Tak Biasa, Rumah Murah, dan Misteri yang Mengundang Tawa
Cerita berpusat pada Mukidi, diperankan Heri Chandra, seorang pria yang patah hati dan berusaha memperbaiki kehidupannya demi menikahi perempuan yang dicintainya. Dalam upaya memantaskan diri, Mukidi membeli sebuah rumah murah yang ternyata menyimpan misteri.
Di rumah tersebut, Mukidi bertemu Sukma, sosok perempuan dari alam berbeda yang diperankan Dara Sarasvati. Pertemuan itu membawa Mukidi dan kedua sahabatnya, Gendut serta Penyok, ke dalam serangkaian kejadian ganjil, menggelikan, sekaligus mengharukan.
Premis cinta beda alam menjadi pintu masuk bagi film ini untuk merangkai komedi dan drama dalam satu cerita. Penonton diajak tertawa menyaksikan tingkah para tokohnya, tetapi pada saat bersamaan juga mengikuti perjalanan emosional karakter-karakter yang menghadapi persoalan cinta, kehilangan, dan perbedaan.
Foto : istimewaIto Mavin: Cerita yang Berawal Sejak 2004
Sutradara sekaligus produser dan penulis skenario Ito Mavin mengungkapkan bahwa gagasan dasar film Piye To Kih? telah disusunnya sejak 2004. Cerita tersebut kemudian dikembangkan bersama Endik Koeswoyo hingga menjadi skenario film yang siap dihadirkan kepada penonton.
“Dasar cerita skenario film ini telah ada sejak 2004. Kemudian, saya mengembangkannya bersama Endik Koeswoyo. Saya merasa cocok bekerja sama dengan Endik dalam mengembangkannya karena kami sama-sama berasal dari Jawa Timur,” jelas Ito saat diwawancarai di Artos Mal.
Perjalanan panjang pengembangan cerita tersebut menjadi bagian menarik dari proses kreatif film ini. Kolaborasi antara pengalaman kreatif pembuat film dan karakter komedi yang tumbuh dari budaya lokal diharapkan menghasilkan tontonan yang memiliki identitas kuat sekaligus dapat dinikmati oleh penonton dari berbagai daerah.
Dara Sarasvati: Menangis Berkali-kali Demi Mendalami Sukma
Daya tarik film ini tidak hanya bertumpu pada komedi, tetapi juga pada tantangan emosional yang dihadapi para pemainnya. Dara Sarasvati, pemeran Sukma, mengungkapkan bahwa sejumlah adegan drama menuntut penghayatan mendalam hingga harus diulang berkali-kali.
“Dalam beberapa scene film ini, saya berakting menangis dengan penuh perjuangan karena harus mengulanginya berkali-kali. Air mata saya mengalir secara natural. Dan tingkat kesulitannya benar-benar luar biasa,” ungkap Dara.
Karakter Sukma menjadi salah satu elemen penting yang menjembatani sisi komedi dan drama. Perubahan suasana dari kelucuan menuju kesedihan menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga emosi cerita agar tetap terasa alami.
Sementara itu, Heri Chandra mengaku mendapatkan banyak pengalaman baru selama menjalani peran Mukidi, terutama ketika harus menyeimbangkan akting natural dengan unsur komedi.
“Saya memperoleh banyak pelajaran dari film ini. Mulai dari menghafalkan kalimat, berakting secara natural, hingga memadukannya dengan komedi,” tutur Heri.
Gabriella Desta dan Ibnu Gundul Perkuat Komedi Situasional
Nuansa humor semakin terasa melalui penampilan Gabriella Desta sebagai Bunga dan Ibnu Gundul sebagai Pak RT.
Desta mengaku kesulitan menahan tawa ketika harus berakting serius bersama Heri Chandra.
“Terus terang, saya belum pernah berada dalam satu frame dengan Heri Chandra. Hal yang paling sulit adalah menahan tawa ketika berakting serius bersama Heri,” ungkapnya di hadapan awak media.
Adapun Ibnu Gundul menghadirkan karakter Pak RT yang dekat dengan keseharian masyarakat, termasuk sosok suami yang takut kepada istrinya dan gemar bermain TikTok.
“Sebenarnya, peran saya tidak sulit. Saya harus memerankan laki-laki yang takut kepada istrinya, yang gemar bermain TikTok,” ujarnya sambil tertawa.
Karakter-karakter tersebut memperkaya dinamika cerita sekaligus menghadirkan komedi situasional yang berangkat dari kehidupan sehari-hari.
85 Persen Dialog Bahasa Jawa, Sebuah Pilihan Berani
Salah satu ciri khas Piye To Kih? adalah penggunaan bahasa Jawa dalam sekitar 85 persen dialognya, dengan dukungan subtitle untuk membantu penonton yang tidak memahami bahasa tersebut.
Pilihan ini menjadi langkah kreatif yang berani dari Ito Mavin. Bahasa Jawa tidak sekadar menjadi alat komunikasi antartokoh, tetapi juga bagian dari identitas, karakter humor, dan atmosfer cerita yang ingin dibangun.
Di tengah keberagaman bahasa dan budaya Indonesia, penggunaan bahasa daerah dalam film layar lebar membuka ruang bagi kekayaan lokal untuk tampil di panggung perfilman nasional. Tantangannya adalah bagaimana menjaga keaslian dialog dan humor khas Jawa agar tetap dapat dipahami serta dinikmati oleh penonton yang lebih luas.
Membawa Cerita Lokal Menjangkau Penonton Nasional
Kolaborasi Miracle Pictures dan Woko Channel melalui Piye To Kih? menghadirkan peluang untuk mempertemukan kreativitas lokal dengan pasar film Indonesia yang beragam.
Dengan memadukan komedi, romansa, drama, dan supranatural, film ini berusaha menawarkan pengalaman menonton yang tidak berhenti pada tawa, tetapi juga menghadirkan sisi emosional dari sebuah kisah cinta yang melampaui batas dunia.
Harapannya, Piye To Kih? dapat diterima masyarakat luas dan meraih kesempatan tayang di bioskop-bioskop seluruh Indonesia.
Lebih dari sekadar judul yang mengundang rasa penasaran, Piye To Kih? membawa pesan bahwa cerita lokal memiliki ruang untuk berkembang menjadi tontonan yang relevan bagi penonton nasional. Dengan karakter yang unik, humor khas Jawa, dan kisah cinta yang tidak biasa, film ini mengajak penonton bertanya sekaligus tertawa: ketika cinta berhadapan dengan dunia yang berbeda, piye to kih?
(Handoko)



