Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

PBTY 2026 Usung Konsep Akulturasi, Siap Jadi Destinasi Ngabuburit di Yogyakarta

Jumat, Januari 23, 2026 | Januari 23, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-23T14:26:13Z


YOGYAKARTA | kompasX.com– Gelaran Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) 2026 dipastikan akan tampil dengan nuansa berbeda. Mengingat pelaksanaan tahun ini bertepatan dengan bulan Ramadan 1447 H, panitia penyelenggara berencana mengonsep acara sebagai sarana "ngabuburit" atau menunggu waktu berbuka puasa bagi masyarakat.
Keputusan tersebut disampaikan oleh Ketua Panitia PBTY 2026, Jimmy Sutanto, usai melakukan pertemuan resmi dengan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, di Gedhong Wilis, Kompleks Kepatihan, pada Jumat.
Jadwal dan Penyesuaian Lokasi
PBTY 2026 direncanakan berlangsung selama tujuh hari, terhitung mulai tanggal 25 Februari hingga 3 Maret 2026. Jimmy menjelaskan bahwa esensi dari penyelenggaraan tahun ini adalah inklusivitas dan semangat kebersamaan antar-elemen masyarakat.
"Tujuan kami adalah merangkum seluruh unsur golongan serta seni budaya guna mempererat rasa kebersamaan," papar Jimmy.
Terdapat perubahan strategis terkait tata letak acara. Panggung utama yang biasanya menjadi pusat pertunjukan seni budaya akan dialokasikan di kawasan Jalan Suryatmajan. Meski demikian, pihak panitia masih akan melakukan koordinasi lebih lanjut mengenai detail teknis di lapangan untuk memastikan kenyamanan publik.
Implementasi Nilai Toleransi
Wakil Ketua Pelaksana PBTY 2026, Subekti Saputro Wijaya, mengungkapkan bahwa penyesuaian dengan kalender Ramadan dilakukan secara saksama. Selain menyediakan ruang publik untuk berinteraksi, panitia juga akan menyediakan fasilitas takjil di sejumlah titik strategis.
Berikut adalah beberapa agenda utama yang telah dikonfirmasi:
Tema Utama: "Warisan Budaya Memperkuat Persatuan Bangsa".
Fasilitas Publik: Penyediaan takjil gratis di area Ketandan dan sekitarnya.
Acara Puncak: Malioboro Imlek Carnival yang akan diselenggarakan pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Subekti menegaskan bahwa pemilihan tema tahun ini merupakan representasi nyata dari predikat Yogyakarta sebagai kota toleransi. Sinergi antara perayaan budaya Tionghoa dan suasana Ramadan diharapkan dapat memperkokoh persatuan nasional melalui apresiasi warisan budaya.

(Red/Erwin)
×
Berita Terbaru Update