![]() |
| Foto : Tim Hukum ketika Berkunjung Dan ngobrol Bersama Jaksa Di pengadilan negeri kebumen 20/01/2026 |
Pengakuan mendadak ini bukan datang dari hati yang tulus, melainkan aksi pengecut seorang pelaku kejahatan yang sedang panik melihat jeruji besi mulai membayanginya. DI kini dicap sebagai pengecut yang hanya berani menunjukkan kekuasaan di depan orang-orang yang tak berdaya.
Biadab! Tahanan Perempuan Disiksa Layaknya Binatang
Rekam jejak kekejaman DI benar-benar melampaui batas kemanusiaan. DW, seorang tahanan perempuan yang seharusnya dibina dan dilindungi negara, justru dijadikan sansak hidup oleh DI. Secara brutal, oknum bermental preman ini diduga menghujani korban dengan pukulan dan tendangan tanpa amping-amping.
Tindakan DI ini adalah bukti nyata hilangnya nurani seorang petugas pemasyarakatan. Tidak ingin membiarkan "monster" berseragam ini terus menghirup udara bebas tanpa sanksi, pihak keluarga korban telah menyeret DI ke ranah hukum melalui laporan polisi nomor Rekom/568/XII/SPKT di Polres Kebumen. Kini, DI sedang berada di ujung tanduk hukum, menunggu nasibnya ditentukan di balik terali besi—tempat yang sama di mana ia menyiksa korbannya.
Serakah dan Korup: Mentalitas "Lintah Darat" di Pusaran Pungli
Dosa DI tidak berhenti pada kekerasan fisik yang menjijikkan. Investigasi mengungkap sisi lain dari kerakusan oknum ini: Praktik pungli dan pemerasan sistematis. DI diduga berperan sebagai "lintah darat" yang menghisap darah keluarga tahanan demi memperkaya diri sendiri.
Bukti-bukti transfer dana yang mengalir deras ke kantong DI telah dikantongi pihak pelapor. Ini adalah tamparan keras bagi Kemenkumham! Bagaimana mungkin seorang oknum petugas bisa memiliki mentalitas perampok berseragam yang memanfaatkan kesusahan orang lain demi gaya hidup busuknya?
Permintaan Maaf "Basi" sang Pengecut
Publik meludahi permintaan maaf prematur yang dilontarkan DI. Sangat jelas bahwa ini adalah taktik licik untuk memelas simpati dan mencari jalan damai demi menyelamatkan kariernya yang sudah hancur. Namun, bagi keluarga korban, permintaan maaf DI hanyalah sampah.
"Dia baru minta maaf setelah dilaporkan polisi dan diberitakan media. Itu bukan tobat, itu ketakutan! Hukum adalah harga mati, tidak ada kata damai untuk penyiksa perempuan dan pemeras uang rakyat," tegas perwakilan keluarga korban dengan penuh amarah.
Bersihkan Rutan Kebumen dari Sampah Birokrasi!
Kini bola panas ada di tangan Polres Kebumen dan Kanwil Kemenkumham Jawa Tengah. Publik tidak akan diam hingga:
1. DI Dipecat Secara Tidak Hormat: Tidak ada tempat bagi sampah birokrasi yang gemar menyiksa dan memeras di institusi negara.
2. Pidana Tanpa Ampun: DI harus merasakan dinginnya penjara tanpa ada intervensi dari "tangan-tangan gelap" di internal Rutan.
3. Audit Total: Bongkar semua oknum pejabat Rutan yang selama ini tutup mata dan diduga mencicipi sisa-sisa uang pungli hasil keringat keluarga tahanan.
Kasus ini menjadi bukti sahih betapa bobroknya moralitas di Rutan Kebumen, di mana oknum petugas bukannya membina, malah berubah menjadi predator bagi tahanan yang lemah. Hukum DI seberat-beratnya!
Laporan : Toni
