YOGYAKARTA | kompasX.com,,, Pasangan Lagu *Darah Juang* sejatinya bukanlah puisi *Sumpah Mahasiswa*. Ia lebih dekat dengan puisi berjudul *Adalah Sebidang Tanah*. Keduanya sering disandingkan dalam ingatan kolektif gerakan mahasiswa, tetapi memiliki akar sejarah dan proses kreatif yang berbeda.
*Darah Juang* diinisiasi oleh John Tobing di Jalan Condong Catur No. 22, Yogyakarta. Lagu ini bukan karya yang lahir dalam sekali duduk, melainkan melalui proses panjang, diskusi, dan penyempurnaan berulang. Jika memakai istilah hari ini, ia mungkin disebut sebagai “syair lagu pemantik” yang terus dimatangkan bersama.
Aransemen dan komposisi utamanya digarap oleh John Tobing. Namun dalam proses kreatifnya, sejumlah kawan turut memberi masukan dan koreksi. Berdasarkan ingatan yang mungkin mulai rapuh dimakan usia, setidaknya ada empat atau lima nama yang terlibat aktif dalam perumusan syairnya.
Mereka antara lain Dadang Julianto (UGM), Himawan Sutanto atau Japrak Haes (ISI), Hendra Budiman (UII), Juli Nugroho (UII), dan Jayadi (UMY). Setiap orang membawa perspektifnya sendiri, baik dalam soal ideologi maupun musikalitas.
Dadang dan Hendra dikenal getol mengingatkan agar syair lagu mewakili rumusan “ideologi” Kongres FKMY (Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta) yang diselenggarakan di Muntilan, Magelang. Bagi mereka, lagu bukan sekadar ekspresi seni, tetapi juga dokumen politik yang harus setia pada garis perjuangan yang telah dirumuskan.
Menariknya, John Tobing sendiri bukan bagian dari utusan resmi KM UGM dalam Kongres FKMY tersebut. Karena itu, perdebatan dan diskusi menjadi ruang penting untuk menjembatani semangat kreatif dengan garis ideologis yang telah disepakati forum.
Sementara itu, Japrak Haes, Juli, dan Jayadi lebih menaruh perhatian pada aspek aransemen agar lagu terasa “enak didengar”. Jika meminjam istilah sekarang, mereka adalah “orang lapangan” yang peka pada daya hidup sebuah lagu ketika dinyanyikan bersama massa.
Beriringan dengan proses penciptaan *Darah Juang*, Japrak Haes menulis puisi berjudul *Adalah Sebidang Tanah*. Salah satu penggalan yang masih melekat dalam ingatan berbunyi: “Adalah sebidang tanah / yang lahir dari sebuah dendam / anak-anak tak sekolah...” dan seterusnya.
Secara tematik, lagu *Darah Juang* dan puisi *Adalah Sebidang Tanah* memiliki nada yang senada. Keduanya lahir di tempat yang sama, di Condong Catur No. 22, dengan latar inspirasi yang sama: hasil Kongres pertama—dan ternyata juga terakhir—FKMY di Muntilan, Magelang, Jawa Tengah.
Berbeda dengan itu, puisi *Sumpah Mahasiswa* karya Afnan Malay lahir dari atmosfer diskusi sekaligus demonstrasi di Bulaksumur, UGM Yogyakarta. Nuansanya lebih dekat dengan denyut aksi jalanan dan pergulatan gagasan yang meletup di ruang-ruang kampus.
Pada masa itu, dinamika gerakan mahasiswa memang terpolarisasi antara kelompok diskusi dan kelompok jalanan. Keduanya kerap saling “clekop”—saling mengejek soal militansi maupun kedalaman isi kepala. Namun justru dari ketegangan itulah lahir karya-karya yang mengkristal menjadi simbol zaman.
Terlepas dari perbedaan sejarah kelahiran lagu dan puisi tersebut, bulan Ramadan menjadi momen yang layak untuk menundukkan kepala. Kita kirimkan doa dan Al-Fatihah bagi John Tobing dan Japrak Haes yang telah mendahului. Untuk Afnan Malay, semoga selalu diberi kesehatan dan umur panjang dalam konsistensinya mengagitasi kesadaran.
Pada akhirnya, kita mungkin pernah bersatu, pernah pula berserak, rapuh, bahkan saling mengkritik. Namun doa yang saling dikirimkan menjadi jembatan yang tak pernah runtuh. Catatan ringan ini datang dari Gatot Indroyono—seorang gardener, mungkin office boy, atau tepatnya Pak Bon di Condong Catur No. 22, Yogyakarta.
(Red / Erwin)