YOGYAKARTA | kompasX.com– Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, keluarga besar keturunan Sultan Hamengku Buwono II yang tergabung dalam Pasederekan Trah HB II kembali menyelenggarakan tradisi tahunan Nyadran. Kegiatan yang sarat akan nilai budaya dan spiritual ini dipusatkan di Kompleks Makam Raja-Raja Mataram, Kotagede, Yogyakarta.
Sejak pukul 08.00 WIB, para tedak turun (keturunan) Eyang Sultan Sepuh Hamengku Buwono II mulai memadati area pemakaman. Mereka datang dari berbagai penjuru daerah, menunjukkan kuatnya tali silaturahmi antaranggota keluarga besar.
Simbol Harmoni dan Penghormatan Leluhur
Ketua Pasederekan Trah HB II, Mas R. Indro Susilo, mengungkapkan bahwa agenda tahun ini diikuti oleh sekitar 90 peserta. Mereka menempuh perjalanan jauh dari Malang, Pasuruan, Surabaya, Semarang, Banyumas, Bandung, Jakarta, Tangerang, hingga DIY demi menjalankan amanah leluhur.
"Tujuan utama Nyadran ini adalah untuk kirim doa, kirim sesaji, tabur bunga, serta membakar kemenyan dan dupa sebagai wujud bakti kepada para leluhur yang telah menurunkan Trah HB II," ujar Mas R. Indro Susilo.
Adapun para tokoh besar Mataram yang diziarahi di Kotagede meliputi:
Nyi Ageng Nis & Ki Ageng Pemanahan
Panembahan Senopati & Ki Juru Mertani
Ratu Waskita Jawi & RAy Retno Dumilah
Prabu Hadi Hanyokrowati & Hamengku Buwono II
Selain itu, doa juga dipanjatkan bagi para leluhur yang bersemayam di tempat lain, seperti di Laweyan, Imogiri (Sultan Agung hingga HB I), Nitikan (Ratu Mas Balitar), Tegal (Amangkurat Agung), hingga Pleret.
Lebih dari Sekadar Ziarah
Ki Suho, peserta asal Banyumas yang juga menjabat Ketua Yayasan Sanggar Kamulyan Sinduredja, menekankan bahwa Nyadran adalah warisan budaya Jawa yang harus dijaga kelestariannya.
"Ritual ini bukan sekadar ziarah, melainkan simbol harmoni antara manusia, leluhur, dan Tuhan. Ini adalah cermin toleransi tinggi dan wujud nyata dari birrul walidain atau bakti kepada orang tua dan pendahulu," jelasnya.
Khidmat dalam Doa, Hangat dalam Kebersamaan
Puncak acara diisi dengan pembacaan Tahlil Qubro dan doa bersama yang dipimpin oleh Mas Dwi Priyono, seorang Abdi Dalem Pengulon. Suasana tampak khusyuk saat para peserta memohon ampunan bagi para leluhur kepada Sang Pencipta Karsa.
Sebagai penutup rangkaian ritual, para anggota Trah HB II berkumpul di area Bale Agung untuk melaksanakan tradisi Kembul Bujana. Mereka makan bersama menikmati hidangan khas Nyadran berupa tumpeng serta ketan, kolak, dan apem, yang melambangkan kerukunan serta permohonan maaf.
(Red/Erwin)