JAKARTA | kompasX.com
Mari kita bicara soal investasi.
Dalam dunia bisnis, kalau Anda menanam modal 2 miliar dan hasilnya malah "kabur" ke pelukan orang lain, itu namanya scam.
Tapi di Indonesia, kita menyebutnya: Oknum Penerima Beasiswa LPDP.
Kasus seperti Dwi Sasetyaningtias dan kawan-kawan yang asyik settle di luar negeri sambil "lupa" jalan pulang adalah bukti otentik bahwa gelar Master dari universitas Ivy League tidak otomatis menyembuhkan penyakit amnesia nasionalisme.
Jika kita bedah secara ekonomi, mengirim Tenaga Kerja Indonesia (TKI/PMI) sebenarnya jauh lebih menguntungkan bagi APBN daripada membiayai kaum intelektual yang hobi ghosting negara.
"Perbandingan Investasi"
Mari kita hitung-hitungan kasar tanpa perlu rumus kalkulus yang dipelajari di London : mengirim TKI adalah melahirkan Pahlawan Devisa.
Dengan Modal Awal Negara adalah Rp. 0,- , karena TKI membayar biaya perjalanan dan jasa Agen pengiriman mereka dengan biaya Mandiri.
Kemudian dari TKI terjadi aliran Remitansi tunai ke desa-desa di tanah air kita.
Tetap kirim uang buat bangun masjid, rumah keluarga dan biaya sekolah anak, sambil
Menangis kalau denger lagu Indonesia Raya disana.
Mengapa TKI Lebih "GIGACHAD" daripada Penerima Beasiswa Negara yang kemudian menjadi Pembangkang?
Seorang pekerja migran di Taiwan atau Korea Selatan bekerja memeras keringat, lalu mengirimkan Won atau Dollar-nya ke kampung halaman di Ponorogo atau NTT. Ekonomi berputar, toko kelontong laku, adik bisa sekolah.
Sedangkan oknum LPDP ? Mereka memeras anggaran negara, lalu setelah lulus, mereka "memeras" otak untuk mencari celah regulasi agar tidak perlu pulang. Hasilnya? Devisa tidak dapat, modal hilang, yang tersisa cuma draf PDF penelitian yang mungkin tidak dibaca siapapun.
TKI adalah duta budaya paling militan. Di manapun mereka berada, aroma sambal terasi dan kecintaan pada dangdut tetap tegak lurus. Mereka bangga jadi orang Indonesia.
Bandingkan dengan kaum intelektual yang baru dua tahun di Belanda sudah merasa "tercerahkan" dan hobi membandingkan sistem drainase Amsterdam dengan selokan di Bekasi tiap kali ada banjir.
Mereka pulang ke Indonesia cuma buat liburan, bukan buat pengabdian.
TKI berani menembus batas negara demi mengubah nasib keluarga. Oknum LPDP yang tidak pulang biasanya punya seribu alasan "intelektual": “Di sini fasilitas riset lebih lengkap,” atau “Gaji di Indo nggak manusiawi.” Logika ini ajaib. Anda disekolahkan dengan uang rakyat justru untuk memperbaiki gaji dan fasilitas itu, bukan malah jadi warga negara kelas dua di negeri orang sambil menikmati subsidi pendidikan dari tukang bakso yang bayar pajak di tanah air.
Mungkin sudah saatnya sistem kita dibalik. Daripada memberikan beasiswa penuh kepada mereka yang hanya ingin "kabur" secara legal, lebih baik uang Beasiswa miliaran itu digunakan untuk
Pelatihan Skill Tingkat Tinggi untuk para TKI kita.
Jadikan mereka teknisi ahli di Jerman, Arab, Korea, Taiwan atau Jepang. Pulang-pulang mereka bawa modal dan keahlian teknis.
Di lain pihak seharusnya para penerima Beasiswa LPDP wajib menyerahkan sertifikat rumah keluarga sebagai jaminan. Kalau tidak pulang, rumah disita dan dijadikan asrama yatim piatu. Adil, bukan?
Negara ini butuh orang-orang yang mau berkeringat di tanah sendiri, bukan orang-orang yang gelarnya sepanjang kereta api tapi nasionalismenya sependek sumbu kompor. Jadi, buat kalian yang masih "betah" di luar sana pakai uang pajak kami: Ingat!!!!, Mbak Siti di Hong Kong lebih berjasa buat ekonomi RI daripada gelar Master dan Doktor kalian yang cuma jadi hiasan dinding di apartemen sewaan di London.
Oleh : HANURANI
22.02.2026
Jakarta.
(Red / Erwin )