Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

""BBM LANGKA & RAKYAT "DIRUMAHKAN""

Minggu, Maret 15, 2026 | Maret 15, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-15T01:42:40Z
.                     foto : istimewa

JAKARTA | kompasX.com.,,,Dunia sedang membara, dan Indonesia mulai merasakan hawa panasnya. 

Himbauan Presiden RI Prabowo Subianto agar masyarakat kembali melakukan Work From Home (WFH) bukan sekadar saran medis pasca-pandemi, melainkan sebuah pengakuan pahit :

Ketahanan energi kita sedang di ujung tanduk akibat ambisi perang Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Ironi Negeri Kaya di Tengah Krisis Global
Sangat ironis melihat bangsa yang katanya kaya sumber daya ini harus "bersembunyi" di rumah hanya karena mesin-mesin perang di Timur Tengah mulai menderu. Ketika rudal meluncur di langit Teheran dan Tel Aviv, mengapa dapur dan kendaraan di pelosok Nusantara yang harus berhenti mengepul?

Himbauan WFH ini adalah sinyal darurat bahwa :
Kita Terlalu Bergantung pada pihak lain. 
Ekonomi kita masih disandera oleh fluktuasi harga minyak dunia dan ketidakpastian geopolitik luar negeri.

Ternyata Kedaulatan Energi Hanya Slogan. Jika perang di belahan bumi lain mampu membuat mobilitas nasional lumpuh, di mana letak kemandirian energi yang selama ini digaungkan?

Maka akhirnya Rakyat Kecil lah yang harus menanggung beban. 

WFH mungkin mudah bagi pekerja kantoran, namun apa kabar dengan kurir, pengemudi ojek, dan buruh lapangan yang tidak bisa membawa pekerjaan mereka ke ruang tamu?

Jadi WFH itu Penyelamat atau Sekadar Penambal Lubang?

Kebijakan "merumahkan" rakyat demi menghemat sisa-sisa kuota BBM adalah langkah defensif yang memprihatinkan. 

Kita tidak bisa terus-menerus menggunakan strategi "tiarap" setiap kali eskalasi global meningkat.

Perang USA-Israel melawan Iran adalah realitas geopolitik, namun kelangkaan BBM di dalam negeri adalah kelalaian sistemik yang harus segera dibenahi.

Memaksa masyarakat WFH tanpa solusi jangka panjang untuk menurunkan ketergantungan pada energi fosil adalah bentuk kegagalan dalam mengantisipasi badai yang sudah terlihat di cakrawala.
Saatnya Menuntut Perubahan Nyata
Himbauan Presiden ini harus menjadi cambuk bagi pemerintah sendiri.

Jangan hanya meminta rakyat menghemat dan diam di rumah, sementara transisi energi terbarukan berjalan di tempat. Kita butuh aksi nyata, bukan sekadar instruksi untuk mematikan mesin kendaraan demi menutupi ketidaksiapan stok energi nasional. 

Jika untuk bergerak saja kita harus menunggu izin dari kondisi perang di Timur Tengah, lantas di mana arti merdeka yang sesungguhnya?

Salam Hati Nurani

14.03.2026
-Hanurani-
WaSekJen DPP Partai HANURA

(Red / Erwin)
×
Berita Terbaru Update