YOGYAKARTA | kompasX.com Kawasan ikonik Titik Nol Kilometer Yogyakarta bersiap menjadi panggung besar bagi sebuah gerakan moral berbasis budaya. Paguyuban Pria Bersurjan dipastikan akan berkolaborasi dengan Komunitas Kain Kebaya Indonesia (KKI) serta Persikindo untuk menggelar aksi "Syiar Budaya".
Bukan sekadar ajang pamer busana tradisional, agenda ini membawa misi mendalam: menanamkan kembali jati diri dan budi pekerti kepada generasi muda di tengah gempuran modernisasi.
Bukan Sekadar Kumpul, Tapi Syiar Karakter.
Ketua Pria Bersurjan, Saifudin, menegaskan bahwa gerakan ini adalah bentuk tanggung jawab moral komunitas terhadap kelestarian sejarah. Menurutnya, penggunaan Surjan dan Kebaya adalah simbol dari kembalinya etika dan adab ketimuran.
"Tujuan utama kami adalah syiar kebudayaan. Kami ingin memastikan sejarah budaya kita tidak hilang dan generasi penerus tidak tercerabut dari jati dirinya," ujar Saifudin dalam sesi persiapan acara di Yogyakarta.
Ia menambahkan, fokus utama kolaborasi ini adalah konsep ngemong atau membimbing. Komunitas ingin merangkul anak muda yang mungkin kurang mendapatkan akses pendidikan karakter untuk kembali mengenal nilai-nilai kesantunan melalui pendekatan budaya.
Rangkaian Acara: Dari UMKM hingga Jalan Sehat.
Untuk menarik minat masyarakat luas dan wisatawan, acara ini dikemas dengan berbagai kegiatan yang memadukan unsur ekonomi kreatif dan interaksi sosial. Beberapa agenda utama yang disiapkan antara lain:
Gelar Produk UMKM: Menampilkan potensi lokal dan produk kreatif masyarakat yang mulai menggeliat.
Panggung Seni Malam Hari: Menghidupkan suasana Titik Nol dengan pertunjukan seni yang edukatif.
Jalan Santai Berbusana Tradisional: Aksi jalan sehat Minggu pagi yang melibatkan pria berbusana Surjan dan ibu-ibu berkebaya untuk berinteraksi langsung dengan warga.
Memperkuat Identitas Bangsa
Gayung bersambut, perwakilan dari pihak komunitas kebaya menyatakan dukungan penuh terhadap visi ini. Menurut mereka, kolaborasi ini adalah langkah konkret untuk menjaga nilai kesantunan di tengah perkembangan zaman.
Melalui sinergi ini, Surjan dan Kebaya diharapkan tidak lagi dipandang sebagai pakaian formal semata, melainkan sebagai simbol identitas, etika, dan kebanggaan bangsa yang harus terus dirawat oleh lintas generasi.
(Red / Erwin)