BLORA | KompasX.com – Kabar memalukan dan bau tak sedap menyeruak dari Kecamatan Jiken. Dugaan aksi premanisme berbalut seragam dalam kasus penahanan truk pupuk bersubsidi kini mengarah ke ranah militer. Tak tinggal diam, Tokoh Muda andalan Kabupaten Blora, Rival Alfian Esa Saputra, angkat bicara dengan nada yang MENGGELEGAR DAN TAK MENTERENG. Ia menuntut keadilan tanpa kompromi demi nasib petani yang sudah terhimpit.
Bagi Rival, insiden ini bukan sekadar pelanggaran administrasi biasa. Ini adalah TAMPARAN KERAS di wajah keadilan rakyat. Di saat petani mati-matian mencari pupuk yang nyaris langka di pasaran, justru ada oknum yang diduga berlagak "penguasa jalanan" dengan menahan truk, mempersulit distribusi, bahkan berani menebar ancaman pemerasan hingga puluhan juta rupiah!
"Kalau ini benar terjadi, ini namanya KEJAHATAN BERJUDUL. Penangkapan tanpa prosedur baku, ujung-ujungnya minta uang tebusan puluhan juta? Ini penyalahgunaan wewenang yang SANGAR PARAH DAN BIADAB! Jangan jadikan rakyat kecil, petani yang butuh makan, jadi sapi perah dan sasaran empuk keserakahan oknum tak bertanggung jawab! Ini mencederai hati nurani bangsa!" bentak Rival dengan emosi yang meluap-luap.
BARANG BUKTI "MENghILANG", JANGAN ADA KESEAN "DIATAS HUKUM"!
Hal yang makin bikin darah mendidih menurut Rival adalah hilangnya jejak satu unit truk lengkap berisi pupuk yang seharusnya jadi barang bukti utama.
"Truknya ke mana? Muatannya ke mana? Kok bisa hilang begitu saja bagai ditelan bumi? Ini indikasi kuat ada MAIN BELAKANG yang ingin mengaburkan jejak kejahatan! Jangan biarkan kesan bahwa 'seragam' bisa membuat seseorang kebal hukum dan seenaknya mempermainkan nasib orang lain. Ini hak hidup petani, bukan mainan anak kecil!" tegasnya menusuk.
DESAK PM & PANGDAM: BERSIHKAN "KUTU HITAM" INI SEBELUM INSTITUSI SEMAKIN KOTOR!
Rival tak tanggung-tanggung menuding. Ia mendesak Polisi Militer (PM) untuk tidak main-main. Turun tangan sekarang juga, bedah kasus ini sampai ke akar-akarnya, dan JANGAN ADA KATA "AMANKAN" ATAU "SELESAIKAN KEKELUARGAAN" di belakang layar!
"Kami minta PM bertindak bak singa lapar. Telusuri, tangkap, dan buka kotorannya di hadapan publik! Kalau terbukti salah, potong ekornya sekarang juga. Tanpa pandang bulu, tanpa pandang pangkat. Nama baik institusi sedang dipertaruhkan di sini!" serunya.
Ia juga menyorot tajam ke meja pimpinan, meminta Pangdam IV/Diponegoro bangun dari tidur nyenyaknya.
"Pak Pangdam, kepercayaan rakyat itu harganya LEBIH MAHAL DARI EMAS DAN PERAK. Sekali rusak gara-gara ulah 'kutu hitam' kayak begini, mau dibeli pakai apa? Kami minta ketegasan besi. Bersihkan ini sekarang. Jangan sampai kasus ini jadi duri dalam daging yang terus membusuk dan bikin rakyat makin muak!" pungkasnya dengan nada ultimatum yang tak bisa ditawar.
Laporan : sari
