Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Aktif di FKUB dan MUI Yogyakarta, 'Ustaz Kampung' Berusia 62 Tahun Ini Tekankan Pentingnya Merajut Kerukunan

Minggu, Mei 03, 2026 | Mei 03, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-03T01:59:39Z


.                      foto : istimewa

YOGYAKARTA | kompasX.com— Di sela-sela menghadiri undangan sebagai tamu kehormatan dalam acara Munas-5 Milad Partai Ummat yang digelar di Hotel Rich, Jalan Raya Magelang Km 6 No. 18, Sinduadi, Sleman, Yogyakarta, Pak Ndaru membagikan kisahnya mengenai komitmen dalam merajut kerukunan antarumat beragama. Selain sibuk mengelola yayasan dan aktif di Majelis Ulama Indonesia (MUI) DIY, pria berusia 62 tahun ini kini juga mendedikasikan waktunya dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Yogyakarta.
Di MUI Yogyakarta, Pak Ndaru tercatat sebagai anggota Komisi Ukhuwah dan Kerukunan. Ia menjelaskan bahwa komisi ini mengemban misi ganda yang sangat penting.
"Ukhuwah itu untuk internal ke dalam umat Islam, sementara Kerukunan untuk eksternal ke luar antarumat beragama," ujarnya.
Mewujudkan Yogyakarta yang Harmonis
Melalui kiprahnya di FKUB, Pak Ndaru memiliki visi besar untuk menciptakan masyarakat Yogyakarta yang serasi, harmonis, dan toleran. Ia menekankan bahwa tujuan akhir dari kerukunan ini adalah agar semua umat beragama dapat hidup berdampingan secara damai.
"Intinya bagaimana kita hidup nyaman, aman, dan harmonis sesama semua umat beragama. Toh, tujuannya sama sebagai satu warga bangsa Indonesia, yaitu menciptakan kesejahteraan, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan mewujudkan perdamaian abadi," jelasnya.
Filosofi 'Ustaz Kampung' dan Ayam Kampung
Latar belakang pendidikan Pak Ndaru terbilang unik untuk seorang pemuka agama. Ia merupakan lulusan Teknik Perminyakan UPN Veteran Yogyakarta dan juga sempat menempuh pendidikan ekonomi di STIE Widya Wiwaha. Namun, darah ulama yang mengalir di tubuhnya—sebagai keturunan Mbah Nur Iman Melangi—membuatnya selalu tertarik pada kegiatan sosial keagamaan.
Meski memiliki nasab yang kuat dan pengalaman dakwah hingga ke Malaysia, Hong Kong, dan Singapura, Pak Ndaru justru lebih bangga dengan julukan "Ustaz Kampung" yang diijazahkan oleh kiai-nya.
Bagi Pak Ndaru, julukan tersebut memiliki filosofi yang mendalam layaknya ayam kampung.
"Ayam kampung itu dibandingkan ayam negeri, lebih enak mana? Lebih enak ayam kampung. Mahal mana? Mahal ayam kampung. Lebih tahan banting mana? Ayam kampung. Ternyata julukan ini membawa berkah buat saya," tuturnya sambil berseloroh.
Mengaplikasikan Tiga Konsep Ukhuwah
Dalam menjalani aktivitasnya, Pak Ndaru selalu berpegang teguh pada prinsip khoirunnas anfauhum linnas—sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Manfaat ini, menurutnya, harus diberikan kepada siapa saja tanpa memandang latar belakang agamanya.
Ia menekankan pentingnya mengaplikasikan tiga jenis ukhuwah dalam kehidupan berbangsa:
Ukhuwah Islamiyah: Persaudaraan sesama umat Islam.
Ukhuwah Watoniyah: Persaudaraan sesama bangsa dan tanah air.
Ukhuwah Basyariyah: Persaudaraan sesama manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan.
"Di FKUB ini kita fokus pada Ukhuwah Watoniyah dan Basyariyah. Bagaimana sebagai sesama warga bangsa, kita bisa hidup rukun bersama-sama untuk mencapai tujuan bangsa Indonesia," pungkasnya.
×
Berita Terbaru Update