Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Transformasi Digital Indonesia: Dari Infrastruktur, Inovasi, hingga Ketahanan Keamanan Siber Berbasis AI

Sabtu, Januari 31, 2026 | Januari 31, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-01-31T13:00:02Z

                     Foto : istimewa

YOGYAKARTA | kompasX.com , 31 Januari 2026.,, Transformasi digital Indonesia tidak dapat berjalan secara sporadis dan reaktif. Ia menuntut arah yang jelas, visi jangka panjang, serta keberanian negara untuk membangun kedaulatan digital dari hulu hingga hilir. Di tengah laju percepatan teknologi global, Indonesia memilih jalan strategis: menjadikan transformasi digital sebagai instrumen pembangunan nasional yang inklusif, berkelanjutan, dan berorientasi masa depan.
Arah besar tersebut bertumpu pada tiga pilar utama yang kini menjadi fondasi kebijakan digital nasional.

.                   foto : istimewa

Pertama adalah lokalisasi, sebuah langkah fundamental untuk memperkuat kemandirian digital melalui investasi infrastruktur komputasi di dalam negeri. Pengembangan edge computing dan layanan cloud nasional tidak sekadar soal teknologi, melainkan strategi geopolitik digital agar data, proses, dan nilai ekonomi tetap berakar di tanah Indonesia.

Kedua, inovasi, dengan menempatkan riset dan pengembangan sebagai jantung pertumbuhan ekosistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). AI tidak lagi dipahami sebatas alat efisiensi, melainkan sebagai penggerak daya saing bangsa. Tanpa ekosistem riset yang kuat, Indonesia berisiko menjadi pasar, bukan pelaku utama, dalam ekonomi digital global.

.                   foto : istimewa

Ketiga, investasi strategis, yang melampaui pembangunan infrastruktur fisik. Investasi ini diarahkan untuk memastikan keterhubungan Indonesia dalam rantai ekosistem AI global—dari pengembangan talenta, penguatan industri, hingga integrasi sistem digital lintas sektor. Inilah fondasi agar transformasi digital tidak berhenti pada pertumbuhan, tetapi berlanjut pada keberlanjutan.

Namun, di balik peluang besar tersebut, terdapat satu tantangan krusial: keamanan siber. Semakin cerdas teknologi, semakin kompleks pula ancaman yang mengintainya. AI bukan hanya alat pertahanan, tetapi juga berpotensi menjadi senjata baru dalam lanskap kejahatan siber.

.                    foto : istimewa

*AI dan Keamanan Siber: Menjaga Masa Depan Ruang Digital Nasional*

Kesadaran inilah yang melatarbelakangi terselenggaranya Cybersecurity Offline Workshop #13 AI-Security, sebuah forum strategis yang mempertemukan negara, komunitas, dan masyarakat dalam satu ruang pembelajaran kolaboratif.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Balai Pelatihan Sumber Daya Manusia Komunikasi dan Digital (BPSDM Komdigi) Yogyakarta bersama Komunitas Cyberkarta, sebagai bentuk nyata komitmen meningkatkan literasi dan keahlian keamanan siber berbasis kecerdasan buatan.

Kegiatan Cybersecurity Offline Workshop #13 AI-Security tersebut digelar tadi pagi, Sabtu (31/1/2026), mulai pukul 08.30 hingga 13.30 WIB, bertempat di Kantor Balai Pelatihan Sumber Daya Manusia Komunikasi dan Digital (BPSDM Komdigi) Yogyakarta, Jalan Imogiri Barat KM 5, Bangunharjo, Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa 

Yogyakarta. Forum ini menjadi ruang strategis bagi pemerintah, komunitas siber, dan masyarakat untuk memperdalam pemahaman serta kesiapan menghadapi tantangan keamanan digital di era kecerdasan buatan.

.                  foto : istimewa

Mengusung tema AI-Security, kegiatan ini tidak hanya membahas ancaman dan teknologi, tetapi juga etika, tata kelola, serta kesiapan sumber daya manusia menghadapi era kecerdasan buatan yang semakin otonom.
Kehadiran Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, sebagai Keynote Speaker, mempertegas posisi strategis isu keamanan siber dalam agenda nasional. Negara tidak hanya hadir sebagai regulator, tetapi sebagai enabler ekosistem digital yang aman dan berdaulat.
Workshop ini menjadi penanda penting bahwa transformasi digital Indonesia tidak boleh berjalan tanpa pagar pengaman. Keamanan siber bukan isu teknis semata, melainkan prasyarat utama bagi kepercayaan publik, keberlanjutan industri, dan stabilitas nasional di era digital.

*Keamanan Digital adalah Fondasi Kepercayaan Industri dan Pariwisata*

Di sela dinamika transformasi digital, Agus Budi Rachmanto, Sekretaris Umum Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI) DPD DIY, menegaskan bahwa isu keamanan siber kini telah melampaui batas sektor teknologi dan masuk ke jantung industri berbasis pengalaman, termasuk pariwisata.

.                   foto : istimewa

“Transformasi digital di industri rekreasi dan pariwisata tidak hanya bicara promosi digital atau sistem tiket daring. Yang jauh lebih penting adalah kepercayaan. Dan kepercayaan itu hanya bisa tumbuh jika sistem digitalnya aman,” ujar Agus.

Menurutnya, pemanfaatan AI dalam industri pariwisata—mulai dari analisis perilaku wisatawan, personalisasi layanan, hingga sistem manajemen pengunjung—harus dibarengi dengan kesiapan keamanan siber yang matang. Tanpa itu, digitalisasi justru berpotensi menjadi titik lemah baru.

Agus menilai kegiatan seperti Cybersecurity Offline Workshop #13 AI-Security memiliki nilai strategis karena menjembatani dunia kebijakan, teknologi, dan sektor riil. “Industri membutuhkan ruang belajar bersama. Tidak semua pelaku usaha memahami risiko siber secara utuh, padahal dampaknya bisa langsung ke reputasi dan keberlanjutan usaha,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. “Keamanan digital bukan tanggung jawab pemerintah atau teknolog saja. Ini kerja kolektif. Ketika SDM kita semakin sadar dan terlatih, maka ekosistem digital nasional akan jauh lebih kuat.”
Bagi Agus, transformasi digital yang sejati bukan tentang siapa yang paling cepat mengadopsi teknologi, tetapi siapa yang paling siap menjaga keberlanjutannya. “Di situlah makna keamanan siber—ia bukan penghambat inovasi, melainkan penjaga masa depan.”

(Red/Erwin)
×
Berita Terbaru Update