SEMARANG | kompasX.com – Sosok Aiptu Tri Roso Budiyanto kini dikenal sebagai Bhabinkamtibmas yang sangat membumi di Semarang. Namun, siapa sangka di balik seragamnya, tersimpan kisah masa lalu yang penuh perjuangan, mulai dari menjadi anak yang "tidak diharapkan" hingga menjadi atlet bela diri tangguh.
Lahir di Tengah Kesulitan
Nama Tri Roso bukanlah sekadar nama. Nama tersebut merupakan pengingat akan tiga perasaan sulit (tri roso) yang dialami keluarganya saat ia lahir: himpitan ekonomi yang melarat, kendala biaya sekolah sang kakak, serta kondisi kesehatan ibunya yang memprihatinkan.
Saking sulitnya ekonomi, Pak Tri sempat diberikan kepada orang lain saat berusia 3 bulan. Bahkan, ia sempat menjalani tradisi "dibuang" atau dititipkan kepada orang lain karena memiliki weton yang sama dengan orang tuanya, sebuah tradisi yang diyakini untuk menghindari kesialan.
Titik Balik: Tendangan Satpam dan Panggung Jurda 98
Harga diri Pak Tri sempat terinjak ketika ia bekerja sebagai sales kacang dan jamur saat SMA. Ia pernah ditendang oleh seorang satpam bank di Jepara hanya karena berjualan di sana. Insiden menyakitkan ini justru menjadi bahan bakar baginya untuk belajar bela diri Jeet Kune Do.
Ketekunannya membuahkan hasil. Pada ajang Kejurda (Jurda) 1998, Pak Tri berhasil membuktikan kemampuannya dengan meraih Juara 1. Menariknya, ia berada dalam satu panggung kejuaraan yang sama dengan petinju legendaris Chris John, meskipun mereka bertanding di kelas berat badan yang berbeda. Prestasi di bidang bela diri inilah yang akhirnya memuluskan langkahnya menjadi anggota Polri.
Prinsip Melayani Tanpa Arogansi
Setelah 19 tahun mengabdi sebagai Babinkamtibmas, Pak Tri tetap memegang teguh prinsip hidup yang rendah hati. Ia sadar betul rasanya menjadi orang kecil yang tertindas, sehingga ia berjanji tidak akan pernah bersikap sombong kepada warga.
"Prinsip saya adalah Datang, Berbuat, dan Bermanfaat. Gaji adalah tanggung jawab saya kepada Tuhan," tegas Pak Tri.
(Red/Erwin)