Tanggamus| KompasX.com — Di bawah langit Kabupaten Tanggamus, sebuah aroma tak sedap mulai menyeruak dari balik gedung-gedung sekolah dasar. Bukan aroma krayon atau buku baru, melainkan aroma busuk dugaan kongkalikong proyek pengadaan mubeler tahun anggaran 2025.
Dinas Pendidikan Kabupaten Tanggamus tampaknya sedang mempertontonkan sebuah sirkus anggaran. Alih-alih memuliakan ruang belajar, miliaran rupiah dari APBD 2025 diduga kuat "menguap" menjadi deretan mubeler berkualitas rendah yang lebih mirip limbah kayu daripada fasilitas pendidikan. Sabtu (7/02/2026).
Ironi Kayu Palet di Ruang Kelas
Di SDN 1 Soponyono, dan SDN 1 Banyu Urip, aroma "pengkhianatan" terhadap uang rakyat tercium jelas. Pantauan lapangan menunjukkan bahwa meja dan kursi yang seharusnya menjadi sandaran masa depan siswa, justru terbuat dari kayu palet. Material afkir ini dipoles paksa untuk memenuhi kuota bantuan yang mencakup ratusan unit meja, kursi, lemari buku, hingga kotak sampah.
Menanggapi kualitas barang yang memprihatinkan tersebut, Kepala SDN 1 Soponyono memberikan pernyataan yang menggambarkan ketidakberdayaan sekaligus ironi birokrasi.
"Kami tidak minta Pak, tapi kami dikasih ya kami terima saja," ujarnya singkat. Sabtu (7/02/2026)
Sikap "pasrah" serupa juga diamini oleh Kepala SDN 1 Banyu Urip, yang seolah menegaskan bahwa pihak sekolah hanyalah penerima akhir dari sebuah skenario pengadaan yang sudah matang di tingkat atas, tanpa kuasa untuk menolak meski kualitasnya di bawah standar.
Proyek ambisius yang dikerjakan oleh rekanan CV. Sumber Maju ini tersebar di 18 Sekolah Dasar (SD). Namun, alih-alih memberikan fasilitas kelas yang kokoh, proyek ini diduga kuat menjadi ajang "pesta pora" mark-up harga yang menciderai logika publik.
Estetika Sampah Berharga Jutaan
Berdasarkan pantauan di lapangan pada akhir Januari hingga awal Februari 2026, salah satu potret miris terlihat di SD Negeri 1 Soponyono, dan SD Negeri 1 Banyu Urip, Kecamatan Wonosobo. Di sana, bantuan mubeler yang diterima tampak mentereng dalam daftar inventaris, namun merana secara kualitas.
Betapa tidak, bahan material meja, kursi, hingga lemari yang seharusnya kokoh untuk menopang masa depan siswa, justru menggunakan kayu palet. Bagi mata awam pun tahu, kayu palet adalah material afkir, sisa-sisa pengemas logistik yang dipaksakan naik kasta menjadi perabot sekolah.
Logika yang Terluka: Harga Langit, Kualitas Bumi
Ketajaman nurani kita seolah diuji saat melihat rincian harga yang ditawarkan dalam pengadaan ini. Mari kita bedah satu per satu angka-angka fantastis yang keluar dari kantong APBD tersebut:
• Satu unit meja dihargai hingga Rp. 458.461.
• Satu unit kursi mencapai Rp. 311.400.
• Lemari buku yang harganya dipatok hingga Rp. 3.279.146.
• Papan tulis white board di hargai hingga Rp. 1.292.729
• Hingga kotak sampah kayu sederhana yang dibanderol hampir setengah juta rupiah (Rp. 472.141).
Sungguh sebuah prestasi luar biasa dari CV. Sumber Maju dan Dinas Pendidikan: menyulap material sisa menjadi barang mewah dengan harga yang melampaui nalar sehat. Jika kayu palet saja dihargai setinggi itu, barangkali masyarakat perlu bertanya: terbuat dari apakah paku-pakunya? Apakah dilapisi emas hingga satu paket meja-kursi setara dengan harga furnitur kelas menengah di toko ternama?
Gurita Rekanan: Pesta Pora di Atas Pagu Anggaran
Dugaan penyimpangan ini tidak berhenti di satu sekolah. Skandal ini menggurita melalui tangan-tangan rekanan yang seolah "berbagi kue" di berbagai jenjang:
• Pendidikan Dasar: CV. Sumber Maju mengelola Rp. 925.356.000 untuk 18 SD yang kini menuai protes akibat barang tak sesuai spek.
• Pendidikan Menengah: CV. Sumber Risky Mandiri menguasai paket Rp. 925.850.000 untuk 15 SMP.
• Ruang Guru & Lab: CV. Anugerah Karya Hidayah (Rp. 225.333.600) dan CV. Alkhaira Pustaka Abadi (Rp. 337.385.000) turut mencatatkan nama dalam daftar pengadaan yang aromanya setali tiga uang.
Jika ditotal, lebih dari Rp. 2,4 miliar uang rakyat mengalir ke kantong para rekanan. Pertanyaannya sederhana: Mengapa barang dengan kualitas "bumi" bisa dihargai dengan angka "langit"?
Polesan Cantik di Balik Bobroknya Mutu
Hingga detik ini, Dinas Pendidikan Tanggamus seolah menutup mata atas "estetika sampah" yang dikirim ke sekolah-sekolah. Independensi jurnalisme mencatat bahwa pengawasan proyek ini tak lebih dari sekadar formalitas di atas kertas bermaterai.
Anak-anak di Tanggamus mungkin hanya bisa meraba serat kasar kayu palet di bawah tangan mereka, sementara para pemangku kebijakan dan rekanan barangkali sedang bersulang, merayakan suksesnya sebuah proyek yang "maju" secara finansial namun "mundur" secara moral. Pendidikan Tanggamus hari ini tidak hanya kekurangan fasilitas, ia sedang kekurangan integritas.
Catatan Redaksi:
Redaksi memberikan ruang seluas-luasnya bagi pihak-pihak yang disebutkan dalam artikel ini untuk memberikan hak jawab, sanggahan, maupun klarifikasi sesuai dengan Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999 dan Kode Etik Jurnalistik.(Roli)