BANTUL | kompasX.com– Di bawah naungan menara Masjid KH. Ahmad Dahlan, Banguntapan, suasana berbuka puasa terasa lebih khidmat dengan kehadiran sosok pendidik senior, H. Munasir Aziz. Usai mengisi pengajian menjelang berbuka pada Senin (23/2), pria yang telah mendedikasikan puluhan tahun hidupnya untuk pendidikan Islam ini membagikan kisah inspiratifnya kepada jamaah.
Duduk santai di masjid yang berlokasi di Mertosanan Kulon, Potorono tersebut, H. Munasir Aziz mengenang kembali awal perjalanannya sebagai "duta" pendidikan di Pulau Dewata pada akhir era 80-an.
Menjadi "Ujung Tombak" di Karangasem
Lulus dari IAIN Sunan Kalijaga pada tahun 1986, H. Munasir Aziz terpilih untuk mengisi kekosongan tenaga pengajar di Karangasem, Bali. Sebagai lulusan Pendidikan Bahasa Arab, ia memegang peran krusial di masa itu.
"Tahun 1991, saya merupakan satu-satunya sarjana bahasa Arab di sana. Meskipun statusnya masih CPNS, saya sudah dipercaya untuk mengikuti pelatihan di Jakarta karena kebutuhan tenaga ahli yang sangat mendesak," ungkap beliau.
Kegigihannya berbuah manis. Selama bertugas di Bali, ia turut mengawal perkembangan pendidikan Islam dari yang semula hanya memiliki satu sekolah hingga berkembang pesat menjadi belasan madrasah (MI, MTs, dan MA) yang kini menjadi tumpuan umat di sana.
Memetik Hikmah Toleransi dan Kejujuran
Bagi H. Munasir Aziz, Bali bukan sekadar tempat bertugas, melainkan sekolah kehidupan. Ia sangat mengagumi kejujuran dan toleransi masyarakat lokal yang menurutnya sangat luar biasa.
Ia menceritakan sebuah pengalaman yang sulit dilupakan: saat tasnya tertinggal di transportasi umum namun dapat kembali dengan kondisi utuh. Nilai-nilai kejujuran inilah yang selalu ia selipkan dalam materi dakwahnya, termasuk saat mengisi kajian di Banguntapan sore tadi.
Masa Purna Tugas yang Tetap Produktif
Setelah menyelesaikan pengabdiannya di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada tahun 2019, H. Munasir Aziz tidak lantas berhenti beraktivitas. Di masa pensiunnya, ia justru semakin aktif terjun ke masyarakat, mulai dari mendampingi mualaf hingga memberikan bimbingan agama bagi jamaah di lingkungan tempat tinggalnya.
Keputusannya untuk menetap di Yogyakarta bukan tanpa alasan. Dukungan sang istri, yang juga seorang pendidik, membuatnya mantap untuk menghabiskan masa tua di Kota Pelajar sambil terus menebar manfaat.
(Red / Erwin)