Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

PENSIL PATAH, NYAWA MELAYANG Tragedi Kemiskinan di NTT

Jumat, Februari 06, 2026 | Februari 06, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-02-06T01:08:36Z
.                    foto : istimewa

YOGYAKARTA | kompasX.com..( 6 februari 2026)
Di saat para pejabat di Jakarta sibuk berdebat soal anggaran makan siang gratis bernilai triliunan, di sebuah sudut sunyi di Nusa Tenggara Timur (NTT), seorang bocah SD memilih mengakhiri hidupnya. Alasannya?

Bukan karena cinta monyet, bukan karena gagal ujian. Ia menyerah karena malu tidak punya pensil dan buku.

Mari kita cerna ini perlahan.

Di Republik ini, sepotong kayu kecil berisi grafit seharga dua ribu rupiah telah menjadi penentu hidup dan mati seorang anak manusia.

Pendidikan yang Katanya *Mencerdaskan*, Ternyata Mematikan. 

Kita sering membanggakan angka pertumbuhan ekonomi dan transformasi digital, namun kita buta terhadap fakta bahwa di NTT, sekolah telah menjadi arena *perpeloncoan mental* bagi mereka yang miskin. 

Saat seorang siswa masuk kelas tanpa alat tulis, ia tidak hanya kehilangan kesempatan belajar, ia kehilangan harga diri.

Di hadapan kawan-kawannya, ia merasa telanjang. Di hadapan gurunya, ia merasa menjadi beban. Dan di hadapan negara? Ia hanyalah statistik yang tidak dianggap.

Negara Absen, Masyarakat Buta
Ke mana perginya dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS)? Ke mana larinya janji-janji *keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia*?

Tragedi ini membuktikan bahwa, 

Kemiskinan bukan sekadar soal perut yang lapar, tapi soal mentalitas yang dihancurkan oleh rasa malu karena ketimpangan yang ekstrem.

Sistem pendidikan kita terlalu kaku. Sekolah lebih peduli pada atribut fisik (seragam, buku, alat tulis) daripada kesehatan mental dan aksesibilitas bagi mereka yang paling melarat.

Empati kita sudah mati. Bagaimana mungkin seorang anak di lingkungan sekolah dan desa bisa memendam penderitaan sedalam itu tanpa ada satu pun orang dewasa yang menyadarinya?

Sebuah Tamparan bagi Nurani Bangsa
Kematian bocah ini adalah dosa kolektif.

Kita semua bersalah.

Kita bersalah karena membiarkan kemiskinan menjadi sangat absolut hingga seorang anak merasa kematian lebih terhormat daripada berangkat sekolah tanpa modal dua ribu perak.

Jika untuk urusan pensil saja negara gagal hadir, lantas untuk apa kita bicara tentang *Indonesia Emas 2045*? Yang ada hanyalah *Indonesia Cemas*, di mana anak-anak kita harus bertaruh nyawa hanya untuk bisa menulis satu huruf di atas kertas.

Jangan hanya kirim doa. Mulailah marah. Mulailah menuntut agar tidak ada lagi nyawa yang melayang hanya karena urusan alat tulis yang harganya tak lebih mahal dari biaya parkir mobil mewah para koruptor.

Dimana Hati Nurani kita ? 

😭😭😭😭😭

03.02.2026
-Hanurani-
WaSekjen DPP Partai HANURA
😭Palembang menangis.

(Red/Erwin)
×
Berita Terbaru Update