JAKARTA | kompasX.com,,,26 februari 2026
Orang Korea Selatan lupa membaca Sejarah Jerman.
Nazi yang Rasis akhirnya tumbang dan negara Jerman luluh lantak akibat rasa superioritas Ras Aria yang petantang petenteng menyerang negara2 tetangganya sendiri.
Ternyata, menjadi rasis itu mahal harganya. Korea Selatan sedang belajar pelajaran pahit: Kamu tidak bisa menghina orang di pagi hari, lalu mengharapkan mereka membeli album idolmu di sore hari.
Peristiwa bermula dari suatu konser K-Pop di Kuala Lumpur.
Warga Korea ribut offline dengan warga Malaysia.
Sepulang konser, keributan bersambung via online dan melibatkan para Netizen kedua Negara tsb.
Netizen Malaysia mendapat dukungan dari Netizen2 Asia Tenggara gegara Netizen Korea Selatan menyinggung issue2 Rasis bukan hanya kepada Malaysia tapi juga kepada saudara2 nya di Asia Tenggara.
Korea Selatan itu ibarat kakak kelas populer yang ganteng, jago dance, tapi kalau ngomong suka bikin sakit hati. Mereka punya "Standard Ganda Platinum": sangat ingin produk budayanya (K-Pop, K-Drama) disembah di seluruh dunia, tapi masih kaget kalau melihat orang asing "berkeliaran" di jalanan Seoul.
K-Netz (Netizen Korea Selatan) itu unik. Mereka bisa membatalkan karier seseorang hanya karena salah makan sandwich, apalagi kalau soal ras. Isu rasisme terhadap Asia Tenggara sudah jadi rahasia umum—dari diskriminasi pekerja migran sampai komentar jahat di media sosial yang menganggap kita ini cuma "pasar" bukan "manusia".
Sikap "Kami lebih superior karena kulit kami lebih putih (berkat filter dan sunscreen)" ini akhirnya menemui lawan yang sepadan.
Netizen Seablings (South East Asian Siblings). Selama bertahun-tahun kita hanya diam sambil streaming MV mereka, tapi begitu harga diri diinjak, algoritma pun bergerak.
Perang digital ini bukan pakai bedil, tapi pakai boikot Massal.
Seablings menurunkan rating aplikasi dan produk Korea.
Membanjiri kolom komentar dengan fakta-fakta pahit.
Mereka mengingatkan dunia bahwa di balik visual yang estetik, ada sistem kerja yang toksik dan pandangan sosial yang kolot.
Korea Selatan sepertinya lupa satu hal:
K-Pop tidak bisa makan kalau penontonnya berhenti bayar.
Ketika rasisme mereka menjadi viral di Asia Tenggara, ekonomi mereka langsung kena mental alias goyang :
*Pariwisata Lesu* Orang Thailand, Vietnam, dan Indonesia mulai berpikir dua kali untuk liburan ke Seoul kalau cuma mau dipandang sebelah mata di toko kosmetik.
*Ekspor Budaya Terhambat*: Brand-brand Korea yang tadinya laku keras mulai digeser oleh brand lokal atau China karena sentimen negatif.
*Penurunan Saham Entertainment*: Investor ketakutan kalau pasar terbesar mereka (SEA) tiba-tiba kompak mematikan TV.
Pengakuan dari seorang warga Korea Selatan sendiri ketika diwawancarai oleh konten kreator di YouTube : " 90 persen warga Korea Selatan itu memang Rasis, I' am sorry "
Kalau ada kompetisi "Cara Tercepat Menghancurkan Ekonomi Sendiri", mungkin K-Netz bakal menang medali emas.
Mereka bertingkah seolah-olah dunia ini cuma panggung K-Pop, padahal mereka lupa siapa yang beli tiket konsernya.
Inilah wujud karma yang datang saat rasisme bertemu dengan kekuatan jempol Seablings
K-Netz mungkin jago bikin petisi aneh, tapi mereka tidak tahu apa-apa soal kekuatan netizen Asia Tenggara. Kita punya pasukan digital yang bisa menjatuhkan rating aplikasi dari bintang 5 ke bintang 1 dalam semalam.
Korea Selatan sekarang dicap secara internasional sebagai "Negara Paling Rasis di Asia". Label ini permanen, susah hilang meski pakai exfoliating toner paling mahal sekalipun.
Bj
Salam Hati Nurani
23.02.2026
-Hanurani-
WaSekJen DPP Partai HANURA.
Ayutthaya.
(Red / Erwin)