Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

"Ya Ya Ya Ya, Bajigur!" – Kisah Otok Bima Sidarta, Maestro Karawitan Yogyakarta yang Mendunia

Selasa, Februari 03, 2026 | Februari 03, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-02-03T01:03:04Z
.                    foto : istimewa

YOGYAKARTA | kompasX.com,  3 February 2026– "Ya ya ya ya... bajigurr!" Seruan khas itu sering kali terdengar di sela-sela latihan atau perbincangan santai dengan Otok Bima Sidarta. Kalimat ikonik tersebut bukan sekadar jargon, melainkan cerminan semangat "Kawan Riang" yang selalu ia bawa dalam setiap karya dan interaksinya.
Di usianya yang kini menginjak 65 tahun, sosok yang akrab disapa Pak Otok ini tetap menunjukkan energi kreatif yang luar biasa. Sebagai anak laki-laki pertama dari maestro seni legendaris Indonesia, Bagong Kussudiardja, Pak Otok memikul tanggung jawab besar dalam menjaga warisan budaya sambil terus melakukan inovasi melalui PLK (Pusat Latihan Karawitan) dan PLT (Pusat Latihan Tari).
Membawa Karawitan ke Lima Benua
Dedikasi Pak Otok dalam dunia karawitan telah membawanya melintasi batas-batas negara. Ia merupakan salah satu duta budaya Indonesia yang paling aktif, membawa gamelan dan musik tradisi ke panggung-panggung internasional yang bergengsi, seperti:
Eropa: Jerman, Belanda, Swiss, dan Italia.
Amerika Serikat: Menampilkan kekayaan suara nusantara di jantung negara Paman Sam.
Asia: Filipina, Jepang, hingga Korea.

.                     foto : istimewa

Salah satu momen puncak dalam karier internasionalnya adalah keterlibatannya dalam delegasi seni untuk Olimpiade Show. Di sana, ia membuktikan bahwa seni tradisional Indonesia mampu bersaing dan memukau penonton di level tertinggi dunia.

.                    foto : istimewa

Filosofi "Bajigur" dan Kreativitas
Meskipun telah menjelajah dunia, Pak Otok tetap sosok yang rendah hati dan jenaka. Jargon "Ya ya ya ya, bajigurr!" sering ia lontarkan sebagai ekspresi kejutan, kegembiraan, atau sekadar mencairkan suasana. Hal ini menunjukkan bahwa meski ia seorang profesional di bidang seni yang disiplin, ia tetap mempertahankan sisi kemanusiaan dan keramahan khas Yogyakarta.
"Seni itu jangan dibuat susah. Harus riang, harus seperti kawan yang saling mendukung," ungkapnya. Sebagai putra sulung Bagong Kussudiardja, ia terus membina generasi muda di PLK agar tidak hanya mahir memukul gamelan, tetapi juga memiliki jiwa yang kreatif dan karakter yang kuat.

.                   foto : istimewa

Perjalanan 65 tahun Otok Bima Sidarta adalah bukti nyata bahwa dengan ketulusan, konsistensi, dan tentu saja semangat yang riang, seni tradisi Indonesia bisa mengguncang dunia tanpa harus kehilangan jati diri.

(Red/Erwin)
×
Berita Terbaru Update