JAKARTA | kompasX.com...,,Dunia intelektual sering kali merasa kehilangan arah ketika satu per satu pilar Mazhab Frankfurt berpulang.
Jika kita bicara tentang sosok yang paling gigih membela kewarasan dalam berdemokrasi, sulit untuk tidak menyebut sang raksasa teori kritis, Jürgen Habermas.
Beliau meninggal dunia pada usia ke 97 tahun di kesunyian dusun Starnberg, Jerman pada 14 Maret 2026 kemarin.
Meskipun ia masih aktif menulis hingga usia senja, pemikirannya sering dibahas dalam konteks "akhir sebuah era".
Mari kita telusuri bagaimana warisan pemikiran mereka tetap hidup, bahkan ketika para pemikirnya telah tiada.
Mazhab Frankfurt (Frankfurt School) bukan sekadar kelompok akademisi, mereka adalah detektif sosial yang mencoba membedah mengapa masyarakat modern sering kali merasa terasing.
Setelah era kegelapan Perang Dunia II, Habermas muncul sebagai generasi kedua yang membawa pesan optimis : bahwa komunikasi adalah kunci pembebasan.
Jika para pendahulunya (seperti Adorno atau Horkheimer) cenderung skeptis terhadap modernitas, Habermas justru percaya bahwa kita hanya butuh cara bicara yang benar.
Konsep paling revolusioner yang ditinggalkan adalah Ruang Publik (The Public Sphere).
Bayangkan sebuah kedai kopi di London abad ke-18 atau meja diskusi di Paris. Di sana, status sosial tidak penting. Yang berkuasa bukan jabatan atau uang, melainkan kekuatan argumen yang lebih baik.
Inilah inti dari demokrasi yang sehat menurut Habermas.
Siapa pun boleh ikut bicara tanpa rasa takut.
Bebas dari tekanan pemerintah maupun kepentingan pasar (iklan/modal).
Perdebatan dilakukan dengan kepala dingin, berdasarkan data dan logika, bukan sekadar makian atau sentimen emosional.
Ironisnya, saat para filsuf ini wafat atau menepi, ruang publik yang mereka impikan sedang mengalami krisis hebat. Habermas menyebut fenomena ini sebagai "Refeodalisasi Ruang Publik".
Jika dulu kita berdiskusi untuk mencari kebenaran, sekarang ruang publik (seperti media sosial) sering kali berubah menjadi RUANG GEMA dimana Kita hanya bicara dengan orang yang setuju dengan kita.
Logika pasar dan algoritma mengatur cara kita berpikir, sehingga diskusi tidak lagi tulus tetapi demi engagement atau pencitraan.
"Demokrasi bergantung pada keyakinan bahwa kita bisa saling meyakinkan dengan kata-kata, bukan dengan kekuatan."
Meninggalnya seorang tokoh Mazhab Frankfurt menandai pengingat bagi kita bahwa demokrasi itu rapuh.
Tanpa ruang publik yang sehat—di mana kita bisa duduk bersama dan berdebat secara beradab—demokrasi hanyalah prosedur pemilu tanpa nyawa.
Para filsuf ini mungkin telah tiada, namun pertanyaan mereka tetap menggantung :
"Apakah kita masih mampu berbicara satu sama lain tanpa niat untuk saling menghancurkan ??? "
Salam Hati Nurani
15.03.2026
-Hanurani-
WaSekJen DPP Partai HANURA
(Red / Erwin)