GUNUNGKIDUL | kompasX.com, 13 April 2026 – Dalam upaya mempercepat penghapusan penyakit Tuberkulosis (TBC), Pemerintah Kabupaten Gunungkidul mengambil langkah tegas melalui kegiatan pencarian kasus secara aktif atau Active Case Finding (ACF). Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, S.E., M.P. turun langsung ke lapangan meninjau pelaksanaan kegiatan tersebut di halaman Puskesmas Karangmojo II, Kamis (9/4) pagi.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul bekerja sama dengan Zero TB Yogyakarta, sekaligus menjadi rangkaian peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia yang dipusatkan di Balai Budaya Kalurahan Bejiharjo, lokasi yang berdekatan dengan tempat kegiatan. Peninjauan ini menandai dimulainya 30 rangkaian kegiatan serupa yang akan digelar di seluruh wilayah Gunungkidul.
Dalam sambutannya, Bupati menyebutkan bahwa ACF merupakan pendekatan strategis dan progresif dalam bentuk layanan "jemput bola".
“Kami tidak bisa hanya menunggu pasien datang. Melalui ACF, kami mendatangi masyarakat agar kasus yang belum terdeteksi bisa ditemukan lebih awal,” ujar beliau.
Kegiatan ini menargetkan 3.000 warga dengan memanfaatkan teknologi rontgen dada yang canggih dan cepat, di mana hasil pemeriksaan paru-paru dapat diketahui dalam waktu lima menit. Bupati menegaskan bahwa seluruh layanan ini disediakan secara cuma-cuma bagi masyarakat.
Bupati juga mengingatkan bahwa kasus TBC ibarat fenomena gunung es, di mana jumlah kasus yang tercatat saat ini baru sebagian kecil dari potensi kasus yang ada di masyarakat. Hal ini diperkuat oleh data Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono, S.Si.T., M.Kes., yang menyebutkan bahwa tingkat deteksi kasus di daerahnya baru mencapai 43% dari perkiraan total kasus yang ada.
“Metode ini melengkapi sistem pencarian pasif yang sudah berjalan selama ini, sehingga peluang penemuan kasus, bahkan pada orang yang tidak bergejala, menjadi jauh lebih besar,” jelas Ismono.
Sementara itu, Direktur Zero TB Yogyakarta, dr. Rina Triasih, M.Med (Paed), Ph.D, Sp.A(K), menjelaskan bahwa jika hasil rontgen menunjukkan indikasi TBC, pemeriksaan akan dilanjutkan dengan tes dahak untuk memastikan diagnosis. Menurutnya, deteksi dini melalui ACF sangat krusial agar pasien segera mendapatkan pengobatan dan risiko penularan dapat ditekan.
Untuk mencapai target eliminasi TBC di Indonesia pada tahun 2030, strategi ini akan diperkuat dengan pemberian pengobatan yang tepat serta Terapi Pencegahan TBC (TPT) bagi orang-orang yang berhubungan erat dengan pasien. Kombinasi antara deteksi dini, pengobatan memadai, dan langkah pencegahan diharapkan dapat menurunkan angka kejadian TBC menjadi di bawah 65 kasus per 100.000 penduduk serta menurunkan angka kematian secara signifikan.
( Red / Erwin)