Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

DR. Phil. Hanurani Prajanto, MA: Satu Tujuan, Beda Cara — Saat Ego Pemimpin Menjadi Awal Kehancuran

Rabu, Mei 20, 2026 | Mei 20, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-19T18:45:40Z
.                     foto : istimewa

JAKARTA | kompasX.com,,, Dalam panggung sejarah politik maupun korporasi, kita sering kali disuguhi narasi tentang kolaborasi hebat yang melahirkan imperium besar atau negara berdaulat. 

Namun, ada sisi gelap yang jarang dikupas tuntas, yakni, bagaimana jika dua otak terbaik, yang memiliki tujuan akhir yang sama persis, justru menjadi penyebab utama kehancuran dari apa yang mereka bangun?

Pertikaian di tingkat puncak *jarang* sekali terjadi *karena perbedaan tujuan*. Sebaliknya, konflik sering kali dipicu oleh benturan ego, perebutan kendali mutlak, atau perbedaan radikal mengenai *cara* mencapai tujuan tersebut. 

Ketika kompromi menemui jalan buntu, energi yang seharusnya digunakan untuk menghadapi musuh dari luar justru habis untuk saling menghancurkan dari dalam.

Berikut adalah rekam jejak historis pertikaian tokoh pemimpin dunia dan bisnis yang membuktikan bahwa visi yang sama tidak menjamin keharmonisan.

Retaknya Kongsi Politik dan Perpecahan Bangsa
Dalam dunia politik, perbedaan cara pandang mengenai "bagaimana cara memajukan bangsa" sering kali mengubah kawan seperjuangan menjadi lawan politik yang sengit.

Siapa yang tak tahu gegeran sunyi Sukarno melawan Mohammad Hatta. 

Visi Bersama mereka adalah memerdekakan, menyatukan, dan memakmurkan Republik Indonesia.
Mereka adalah "Dwitunggal" yang tak terpisahkan saat memproklamasikan Indonesia. 

Namun, pasca-kemerdekaan, keretakan mulai muncul. Sukarno adalah seorang orator ulung yang bergaya revolusioner, menggebu-gebu, dan cenderung memusatkan kekuasaan (yang kelak menjadi Demokrasi Terpimpin). Sebaliknya, Hatta adalah seorang pemikir ekonomi yang demokratis, disiplin, institusionalis, dan percaya pada penguatan sistem parlemen.

Merasa jalannya sudah tidak lagi seiring dan melihat arah pemerintahan yang semakin otoriter, Hatta secara jantan mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden pada tahun 1956. Mundurnya Hatta menandai berakhirnya era Dwitunggal dan memicu ketidakstabilan politik serta pergolakan daerah di tahun-tahun berikutnya.

Contoh lainnya dari negeri Wuling dan BYD ketika Mao Zedong berseteru dengan Liu Shaoqi perkara deologi Murni melawan Pragmatisme Ekonomi dalam membangun China menjadi kekuatan komunis yang mandiri, kuat, dan disegani dunia.

Pasca-kegagalan program *Great Leap Forward* (Lompatan Jauh ke Depan) milik Mao yang menyebabkan kelaparan massal, Liu Shaoqi (bersama Deng Xiaoping) mengambil alih kendali ekonomi. Liu menerapkan pendekatan yang lebih pragmatis, melonggarkan kontrol, dan mengizinkan kepemilikan tanah pribadi skala kecil untuk menyelamatkan rakyat. 

Mao melihat tindakan Liu sebagai pengkhianatan terhadap nilai murni komunisme dan ancaman langsung terhadap pengaruhnya.

Mao meluncurkan gerakan radikal bernama *Revolusi Kebudayaan* untuk membersihkan lawan politiknya. Liu Shaoqi dicopot dari jabatannya, didegradasi secara sosial, disiksa secara psikologis, hingga akhirnya meninggal mengenaskan dalam isolasi pada tahun 1969. Pertikaian ini melumpuhkan stabilitas sosial, budaya, dan ekonomi China selama satu dekade.

Di Rusia/Uni Soviet, pada masanya ada Joseph Stalin melawan Leon Trotsky (Sosialisme Domestik vs. Revolusi Global). 

Mempertahankan kejayaan Uni Soviet dan menyebarkan ideologi Marxisme-Leninisme adalah visi bersama mereka. 

Sesaat sebelum dan setelah kematian Vladimir Lenin, perebutan kekuasaan memuncak. Trotsky, sang arsitek Angkatan Darat Merah, menginginkan *"Permanent Revolution"* (menyebarkan revolusi komunis ke seluruh dunia secepatnya). Sementara Stalin memilih pendekatan domestik dengan konsep *"Socialism in One Country"* (memperkuat Uni Soviet terlebih dahulu melalui industrialisasi paksa dan kolektifisasi).

Menggunakan kelicikan politik dan kontrol birokrasi, Stalin memenangkan takhta. Trotsky diasingkan dari Uni Soviet, namanya dihapus dari buku sejarah resmi, dan pada tahun 1940, ia dibunuh secara brutal di Meksiko oleh agen rahasia Stalin menggunakan kapak es.

Jika dalam politik dampaknya adalah pertumpahan darah atau ketidakstabilan negara, dalam dunia bisnis, perseteruan antar-pemimpin terbukti ampuh membunuh "angsa bertelur emas" yang produknya sudah melegenda.

Mike Lazaridis dan Jim Balsillie mempunyai Visi Bersama, yakni, Menjaga BlackBerry sebagai raja pasar *smartphone* dan keamanan data dunia.

Lazaridis adalah otak teknis legendaris di balik papan ketik (keyboard) fisik BlackBerry, sementara Balsillie adalah maestro bisnis yang agresif. Sebagai *co-CEO*, mereka membawa Research In Motion (RIM) ke puncak dunia. Namun, saat iPhone lahir pada 2007 dengan teknologi layar sentuh (touchscreen), keduanya gagal merespons dengan kompak. Lazaridis bersikeras mempertahankan keyboard fisik demi kenyamanan mengetik, sementara Balsillie terdistraksi oleh ambisinya membeli tim hoki es NHL dan melakukan strategi bisnis yang tidak sinkron.

Struktur *co-CEO* yang awalnya menjadi kekuatan justru berubah menjadi kutukan. Pengambilan keputusan menjadi lambat karena penuh kompromi yang setengah hati. BlackBerry kehilangan momentum emas untuk beralih ke ekosistem Android/iOS dan runtuh dari penguasa pasar menjadi merek yang tidak lagi relevan dalam hitungan tahun.

Pada kasus Gucci yang terjadi adalah Perang Saudara Keluarga yang Berujung Maut. 

Mau nya mereka tentu membawa merek fesyen mewah Italia, Gucci, menjadi kiblat gaya hidup kelas atas dunia.

Memasuki generasi ketiga, keserakahan dan dendam pribadi merusak internal keluarga. Maurizio Gucci (sang cucu pendiri) berseteru hebat dengan pamannya, Aldo Gucci, mengenai arah manajemen perusahaan. Demi merebut kendali penuh, Maurizio bahkan melaporkan pamannya sendiri ke otoritas pajak Amerika Serikat yang menjebloskan Aldo ke dalam penjara.

Manajemen yang kacau akibat perang saudara ini membuat keuangan Gucci hancur di awal era 1990-an. Maurizio akhirnya terpaksa menjual seluruh saham keluarga ke perusahaan investasi asing (Investcorp), mengakhiri kepemilikan dinasti keluarga Gucci selamanya. Tragisnya, kisah ini berakhir dengan Maurizio yang tewas ditembak oleh pembunuh bayaran yang disewa oleh mantan istrinya sendiri pada tahun 1995.

Adidas melawan Puma adalah sebuah dendam abadi dua bersaudara Dassler

Mereka pada awalnya ingin menciptakan sepatu olahraga dengan kualitas terbaik di Jerman.
Adolf (Adi) Dassler dan Rudolf Dassler lalu mendirikan perusahaan sepatu bersama yang sangat sukses. 

Namun, ketegangan mulai muncul akibat perbedaan kepribadian, kecemburuan antar-istri mereka, hingga friksi politik di masa Perang Dunia II. Sebuah salah paham di dalam bunker perlindungan bom menjadi titik puncak yang menghancurkan hubungan darah mereka selamanya.

Perusahaan asli mereka pecah pada tahun 1948. Adi mendirikan *Adidas*, sedangkan Rudolf mendirikan *Puma*. Perseteruan ini tidak hanya memecah keluarga, tapi juga membelah seluruh kota tempat tinggal mereka (Herzogenaurach) menjadi dua kubu yang saling bermusuhan.
 
Meskipun kedua merek ini akhirnya sukses secara global, perseteruan ini menghancurkan bisnis keluarga yang asli dan membuat mereka menghabiskan energi serta jutaan dolar selama puluhan tahun hanya untuk saling menjatuhkan.

Pelajaran Penting untuk Masa Depan
Sejarah mengajarkan kita satu hal esensial: *kesamaan visi tidak bernilai apa-apa tanpa adanya keselarasan dalam eksekusi dan kerendahan hati untuk berkompromi.*
Ketika seorang pemimpin menaruh egonya atau merasa "paling benar" dalam menginterpretasikan cara mencapai tujuan, mereka sedang menanam benih kehancuran bagi organisasi yang mereka pimpin. 

Baik dalam mengelola sebuah negara besar maupun dalam menjalankan perusahaan multinasional, mekanisme manajemen konflik yang sehat dan pembagian peran yang jelas adalah kunci.

Tanpa itu, kehebatan masa lalu hanyalah cerita pengantar tidur, dan kehancuran tinggalah menunggu waktu. Kebesaran suatu bangsa atau perusahaan tidak diuji saat mereka menghadapi musuh dari luar, melainkan saat para pemimpinnya diuji untuk menundukkan ego mereka sendiri demi kepentingan bersama.

Salam Hati Nurani

19.05.2026
-Hanurani-
Wasekjen DPP Partai HANURA

(Red / Johnson)
×
Berita Terbaru Update