Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

MERAYAKAN 1 JUNI : Pancasila, Rumah Bersama Ragam Bangsa dan Jiwa Agama

Senin, Juni 01, 2026 | Juni 01, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-06-01T04:06:01Z


JAKARTA |
kompasX.com,,, Setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila.

Momentum ini bukan sekadar rutinitas kalender bernegara, melainkan alarm tahunan untuk merefleksikan kembali fondasi rumah besar bernama Indonesia. Rumah ini berdiri di atas fondasi yang kokoh bernama Pancasila, yang menaungi hamparan perbedaan yang luar biasa.

Bayangkan sebuah bentangan zamrud khatulistiwa yang dihuni oleh lebih dari 1.300 suku bangsa, 700an bahasa daerah, serta pelbagai pelukan agama dan kepercayaan—mulai dari Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Khonghucu, hingga aliran kepercayaan leluhur. 

Mengikat ego dari keberagaman raksasa ini menjadi satu kesatuan bangsa bukanlah perkara mudah. Di sinilah Pancasila hadir sebagai kalimat penyatu (kalimatun sawa), titik temu yang membuat semua orang merasa memiliki dan dimiliki oleh Indonesia.

*Pancasila dan Agama: Hubungan Tebu dan Gula*

Seringkali muncul benturan pemikiran yang mempertanyakan posisi Pancasila di hadapan agama. Ada anggapan keliru bahwa menerima Pancasila berarti menduakan Tuhan atau mengadopsi sistem yang *thogut* (melampaui batas/anti-Tuhan). Padahal, jika kita selami dengan jernih, Pancasila sama sekali tidak bertentangan dengan agama.

Untuk memahaminya, kita bisa menggunakan analogi yang sangat membumi: *Agama adalah laksana tebu buatan Tuhan, sedangkan Pancasila adalah laksana gula buatan manusia.*

Tebu adalah tanaman alami yang diciptakan Tuhan dengan segala kemurnian dan sari manisnya. Manusia kemudian memeras tebu tersebut, mengristalkannya, dan menjadikannya gula agar lebih mudah dikonsumsi, ditakar, dan digunakan dalam berbagai racikan kehidupan sehari-hari. 

Secara wujud fisik, tebu dan gula memang tampak berbeda. Namun secara esensi, rasa manis di dalam gula itu bersumber sepenuhnya dari sari manis tebu.

Begitu pula Pancasila. Ia adalah rumusan buatan manusia (para pendiri bangsa), namun sari pati dan "rasa manis" yang dikandungnya diambil langsung dari nilai-nilai luhur ajaran agama buatan Tuhan. Pancasila tidak menggantikan agama, melainkan menjadi wadah sosiologis agar nilai-nilai agama bisa diterapkan dalam konteks bernegara yang majemuk.

*Nafas Islam dalam Sila-Sila Pancasila*

Bagi umat Islam, mengamalkan Pancasila sejatinya adalah manifestasi dari menjalankan syariat itu sendiri dalam kehidupan berbangsa. Setiap silanya memiliki akar tunggang yang kuat dalam dalil-dalil Al-Qur'an, 

 * Sila ke-1: Ketuhanan Yang Maha Esa. 

Ini adalah refleksi tauhid murni. Umat Islam menegaskan keesaan Allah dalam setiap helai napasnya.

Dalil, QS. Al-Ikhlas, "Katakanlah (Muhammad), 'Dialah Allah, Yang Maha Esa'."

   * Sila ke-2, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. 

Islam sangat menjunjung tinggi kemuliaan manusia (karamah insaniyah) tanpa memandang latar belakangnya, serta kewajiban berlaku adil.

Dalil, QS. Al-Ma'idah 8 "... Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa."

    * Sila ke-3, Persatuan Indonesia. 

Menjaga persaudaraan di tengah perbedaan suku dan bangsa adalah perintah Allah agar manusia saling mengenal dan bersinergi.

Dalil, QS. Al-Hujurat 13 "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal..."

 * Sila ke-4, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan

Prinsip musyawarah (syura) adalah pilar penting dalam mengambil keputusan bersama demi kemaslahatan publik dalam Islam.

Dalil, QS. Ali 'Imran, 159 "... dan bermusyawarah-lah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah."

  * Sila ke-5, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. 

Tujuan akhir dari syariat Islam (maqashid syariah) salah satunya adalah tegaknya keadilan ekonomi dan sosial, di mana harta tidak boleh hanya berputar di kalangan orang kaya saja.

Dalil QS. An-Nahl, 90 "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat..."

  *Sila Keenam yang Belum Ada ?*

Menjaga Pancasila bukan hanya menghafalnya di luar kepala, melainkan membumikannya dalam realitas.

Terkadang, jarak antara idealita Pancasila dan realitas sosial di lapangan masih menyisakan ironi dan tawa getir, seperti yang tergambar dalam obrolan santai berikut.

Alkisah, ada seorang warga dari Madura yang sedang berbincang dengan seorang pemuda kota tentang wawasan kebangsaan.

"Cak, sampeyan tahu tidak, ada berapa sila dalam Pancasila?" tanya si pemuda menguji.

Dengan percaya diri, si orang Madura menjawab, "Oh, tahu saya, Mas. Pancasila itu ada enam!"

Si pemuda terkejut, "Lho, kok enam, Cak? Setahu saya cuma lima. Coba sebutkan apa saja!"

Si Madura berdeham lalu menghitung dengan jarinya, "Sila Pertama, Bismillah... Kedua, Ketuhanan Yang Maha Esa. Ketiga, Kemanusiaan yang adil dan beradab. Keempat, Persatuan Indonesia. Kelima, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan."

Si pemuda makin bingung sambil menahan tawa, "Lho, lho... terus yang keenamnya apa, Cak?"

Si pemuda kemudian memotong, "Apa itu, Mas?" tanya si Madura balik.

"Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia!" seru si pemuda membetulkan urutan sila kelima yang asli.

Mendengar itu, si orang Madura langsung menepuk jidatnya sambil tersenyum kecut, "Lhaaa... kalau yang itu memangnya sudah ada, Mas?"

Anekdot di atas adalah sentilan jenaka namun mendalam bagi kita semua di Hari Lahir Pancasila ini. Tugas kita sekarang bukan lagi memperdebatkan apakah Pancasila itu sesuai dengan agama atau tidak—karena rasa manisnya sudah jelas bersumber dari tebu ajaran Tuhan. Tugas terbesar kita adalah membuktikan kepada "Cak Madura" dan seluruh rakyat Indonesia di pelosok negeri, bahwa Sila Kelima, Keadilan Sosial, itu benar-benar sudah ada dan bisa dirasakan oleh semua. Selamat Hari Lahir Pancasila!


Salam Hati Nurani 

01.06.2026

- *Hanurani* -

Wasekjen DPP Partai HANURA.

×
Berita Terbaru Update