JAKARTA | kompasX.com...,,Selamat datang di momen Imlek, sebuah hari di mana kita merayakan fakta bahwa setengah dari makanan yang Anda anggap "asli Indonesia" sebenarnya adalah imigran gelap dari daratan Tiongkok yang sudah ganti KTP dan fasih berbahasa daerah.
Mari kita bicara jujur, kalau kita menghapus semua pengaruh kuliner Tionghoa dari Nusantara, perut orang Indonesia akan mengalami krisis eksistensi yang lebih parah daripada putus cinta.
Bakso adalah bola daging yang Mengkhianati Namanya sendiri.
Mari kita mulai dengan pengkhianatan linguistik terbesar: Bakso. Secara etimologi, Bak-So (bahasa asli nya) berarti daging babi giling.
Tapi di Indonesia? Bakso adalah makanan paling "halal" yang bisa Anda temukan di depan masjid sampai gerbang sekolah dasar.
> "Ini adalah puncak asimilasi: mengambil resep dari Tiongkok, mengganti isinya dengan sapi, dan memakannya dengan sambal uleg sampai telinga berdenging. Bakso adalah bukti bahwa orang Indonesia jago melakukan rebranding tanpa perlu konsultan marketing mahal."
Bakmi dan Sejuta Cabangnya
Tanpa pengaruh Tiongkok, kencan anak muda Indonesia akan sangat membosankan. Mau makan apa? Nasi uduk terus?
Berterimakasihlah pada imigran Tionghoa yang membawa teknik mie. Sekarang kita punya Mie Aceh yang pedasnya minta ampun, Mie Jawa yang manisnya kayak janji kampanye, sampai Bakmi karet yang teksturnya bikin rahang olahraga.
Dunia mungkin punya Pasta, tapi Indonesia punya Mie Ayam Abang-Abang yang gerobaknya biru dan micinnya bisa bikin Anda melihat masa depan.
Tahu dan Tempe, Persaudaraan yang Dipaksakan
Tahu (Tau-Hu) adalah ekspor teknologi pangan Tiongkok yang paling sukses. Begitu sampai di sini, dia bertemu dengan Tempe (si pribumi asli). Sekarang mereka adalah pasangan tak terpisahkan di piring penyetan.
Tahu itu lembut, putih, sopan.
Sebaliknya Tempe itu kasar, bertekstur, keras kepala.
Gabungan keduanya adalah simbol harmoni bangsa.
Siapa butuh "seminar toleransi" kalau Anda bisa melihat Tahu dan Tempe goreng hidup berdampingan di atas cobek yang sama?
Lontong Cap Go Meh adalah si masakan "Jalan Tengah".
Lontong Cap Go Meh adalah puncak dari strategi cari aman para peranakan Tionghoa zaman dulu.
Gimana cara merayakan Imlek tapi tetap terasa lokal? begitu konon nya.
Gampang, ambil lontong, siram sayur lodeh, kasih opor ayam, tambah sambal goreng ati.
Ini bukan cuma makanan, ini adalah diplomasi piring. Sebuah pesan bawah sadar bahwa: "Kami boleh merayakan tahun baru lunar, tapi urusan lidah, kami tetap tim santan kental!"
Kita adalah apa yang kita makan (dan kita makan masakan Cina)
Jadi, untuk Anda yang masih hobi teriak-teriak anti-asing tapi masih doyan jajan Siomay (Shao-Mai), makan Kwetiau, atau nyemil Bakpao di pinggir jalan: Berhentilah munafik. Lambung Anda sudah lebih dulu "inklusif" daripada status media sosial Anda.
Imlek bukan cuma soal angpao, tapi soal mengakui bahwa tanpa kuali dan teknik menumis dari Tiongkok, kuliner Nusantara mungkin tidak sekaya rasa seperti jaman now.
*Gong Xi Fa Cai !* Mari rayakan Imlek dengan makan besar, karena di depan piring nasi goreng (yang asalnya dari Tiongkok juga), kita semua adalah saudara se-micin.
Salam Hati Nurani
Sekali lagi,
*GONG XI FAT CAI*
17.02.2026
-Hanurani-
WaSekjen DPP Partai HANURA.
Menikmati Kopi Tak-Kie dan Cempedak Goreng Petak Enam, Glodok, Indonesia.
(Red/Erwin)