Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Kemandirian Pangan Berbalut Spiritualitas: Kisah Iskandar Waworuntu dan Filosofi Akhlak di Bumi Langit

Senin, Februari 23, 2026 | Februari 23, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-02-23T05:54:25Z
.                   foto : istimewa

BANTUL | kompasX.com – Di perbukitan Mangunan, Imogiri, sebuah ekosistem mandiri berdiri kokoh sebagai bukti harmonisasi antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Adalah Iskandar Waworuntu, pria di balik Bumi Langit Institut, yang berhasil mengubah lahan gersang pasca-gempa Yogyakarta 2006 menjadi oase permakultur yang sarat akan nilai-nilai spiritual.
Menjawab Krisis Akhlak Zaman Modern
Dalam sebuah wawancara, Pak Is menekankan bahwa Bumi Langit bukan sekadar tempat tinggal atau tempat bertani, melainkan wadah penyadaran tentang pentingnya alam. Ia menyoroti bahwa masalah utama manusia modern adalah krisis akhlak terhadap lingkungan.
"Yang hilang dalam kehidupan modern ini adalah akhlak. Bagaimana akhlak kita pada air, pada tanah, pohon, hingga binatang. Kami mencoba mengingatkan kembali apa yang sebenarnya sudah dilakukan leluhur kita," ungkap Pak Is.
Perjalanan Lintas Budaya dan Koneksi Bengkulu.

.                    foto : istimewa

Latar belakang Pak Is yang beragam turut membentuk cara pandangnya yang inklusif. Lahir dari ayah asal Indonesia dan ibu asal Inggris, ia memiliki ikatan batin yang kuat dengan Yogyakarta sejak bergabung dengan Bengkel Teater Rendra pada tahun 1972.
Koneksi mendalamnya dengan dunia tani juga diperkuat oleh sang istri, Darmila. Beliau berasal dari Bengkulu dan merupakan keturunan Suku Rejang, masyarakat yang secara historis memiliki budaya ladang berpindah yang kental. Pertemuan di Bengkulu saat Pak Is menjalani program transmigrasi menjadi titik balik spiritual yang menuntunnya mendalami Islam dan etika terhadap alam.
Permakultur dan Konsep Halalan Thoyyiban.

.                 foto : istimewa

Didirikan pada Mei 2014, Bumi Langit menerapkan prinsip permakultur yang berlandaskan etika atau adab. Bagi Pak Is, pangan harus memenuhi prinsip halalan thoyyiban—tidak hanya bergizi, tetapi juga menjadi kekayaan spiritual.
Siklus Mandiri: Lahan tiga hektar ini mengolah limbah rumah tangga dan peternakan menjadi biogas dan pupuk.
Energi Terbarukan: Pemanfaatan panel surya (solar cell) dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan listrik secara bijaksana.

.                  foto : istimewa

Warung Bumi Langit: Menjadi titik temu perjalanan pangan melalui sajian olahan mandiri seperti kefir, roti, dan tempe organik.
Warisan untuk Masa Depan
Kini, operasional Bumi Langit mulai diteruskan oleh anak-anaknya. Selain di Bantul, Pak Is juga tetap mengelola lahan di Pupuan, Tabanan, Bali, yang fokus pada produksi sayur-sayuran organik. Melalui Bumi Langit, ia membuktikan bahwa kedaulatan pangan adalah kunci menuju kebahagiaan, kesehatan, dan kesejahteraan yang membawa berkah.

(Red / Erwin)
×
Berita Terbaru Update