JAKARTA | kompasX.com..,,Ekspor Indonesia menutup tahun 2025 dengan kepala tegak,
namun ada aroma kecemasan di baliknya.
Data BPS menunjukkan neraca perdagangan kita berhasil mencetak surplus sebesar US$41,05 miliar sepanjang 2025. Angka ini memperpanjang rekor surplus selama 68 bulan berturut-turut.
Memasuki Januari 2026, ekspor kita meroket ke angka US$22,16 miliar, naik 3,39% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Hilirisasi nikel (HS75) tumbuh gila-gilaan sebesar 42,04% dan lemak/minyak nabati (CPO) melonjak 46,05%.
Tapi kita masih sangat bergantung pada tiga "bos besar":
Tiongkok (24,8%), Amerika Serikat (11,8%), dan India (7,1%).
Jika ekonomi Tiongkok batuk, ekspor kita langsung masuk angin.
Di tengah gegap gempita manufaktur, ekspor migas justru anjlok 15,62%. Kita makin jago jualan barang olahan, tapi makin payah menjaga kedaulatan energi.
Tembok Tinggi di Depan Mata. Maka
Jangan terlena dengan angka surplus. Tahun 2026 adalah tahun "ujian nyali" bagi eksportir Indonesia karena beberapa tembok besar, yakni,
Sentimen "Hijau" yang Mencekik kita di Uni Eropa.
EU mulai memberlakukan EU Deforestation Regulation (EUDR). Produk CPO, karet, dan kayu kita terancam ditendang dari pasar Eropa jika tidak bisa membuktikan bebas deforestasi. Ini bukan lagi soal kualitas, tapi soal sertifikasi yang rumit dan mahal.
Kemudian ketegangan di Timur Tengah memicu volatilitas harga energi.
Di sisi lain, strategi China+1 memang membuka peluang, tapi pesaing kita (Vietnam dan Thailand) jauh lebih gesit dalam urusan birokrasi dan digitalisasi.
Birokrasi kita masih "Berkarat", meski digitalisasi digaungkan, banyak eksportir UKM mengeluhkan pengurusan sertifikat (HACCP, Halal, SVLK) yang masih berbelit dan penuh biaya siluman.
Pemerintah mematok target ekspor 2026 sebesar US$315,31 miliar. Apakah ini realistis?
Pertumbuhan ekspor diprediksi akan moderat di angka 5,3% - 7,09%.
Sektor manufaktur atau industri pengolahan akan menyumbang lebih dari 70% total ekspor.
Harapan ada pasar baru tentu ada pada implementasi penuh perjanjian dagang (CEPA) dengan Uni Eropa dan Kanada yang diprediksi bisa melejitkan ekspor 2 kali lipat.
Indonesia tidak bisa terus-menerus mengandalkan "keajaiban" naiknya harga komoditas atau sekadar menggali lubang di tanah.
Jika kita tidak segera beralih ke produk berkelanjutan dan memangkas biaya logistik yang masih tertinggi di ASEAN, surplus 68 bulan ini hanya akan menjadi catatan sejarah yang usang.
Oleh : HANS
Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia ( GPEI )
28.03.2026
(Red / Erwin)