Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

MENGKHAYAL "ALL TIME HIGH" TAPI IHSG MALAH AMBRUK!!!!!!!

Kamis, Maret 26, 2026 | Maret 26, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-26T14:08:03Z

                       foto : istimewa

JAKARTA | kompasX.com...,,Awal tahun 2026 dibuka dengan euforia luar biasa. IHSG sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa (All Time High) di level 9.174 pada Januari 2026. 

Namun, hanya dalam hitungan minggu, pasar modal Indonesia seolah kehilangan pijakan. Hingga hari ini, 26 Maret 2026, indeks terperosok ke kisaran 7.200-an, menghapus keuntungan yang diraih dengan susah payah selama berbulan-bulan.
Mengapa "benteng" ekonomi kita terlihat begitu rapuh? 
Pertama soal Efek "Twin Deficit" dan Kebocoran Fiskal. 
Data terbaru menunjukkan bahwa anggaran negara mencatat defisit yang mengkhawatirkan. Penerimaan pajak dilaporkan merosot hingga 30%, sebagian disebabkan oleh kendala implementasi sistem perpajakan baru (Core Tax). 
Investor global sangat sensitif terhadap disiplin fiskal. Begitu mereka mencium aroma ketidakpastian dalam APBN, modal asing (capital outflow) langsung keluar secara masif.

Soal kedua adalah tercekiknya Rupiah dan Tekanan Global terhadap Rupiah saat ini tertatih-tatih di level Rp 16.900 per dollar AS. 
Tekanan ini bukan sekadar angka di monitor, melainkan beban nyata bagi emiten yang memiliki utang dalam valas atau ketergantungan impor tinggi.

Ditambah lagi, kebijakan tarif dagang Donald Trump menciptakan guncangan pada rantai pasok global, membuat investor lebih memilih aset aman (safe heaven) seperti emas daripada saham di negara berkembang (emerging markets).

Faktor berikutnya adalah Krisis Kepercayaan terhadap Kebijakan Domestik. 
Pasar tidak menyukai ketidakpastian. Isu mengenai perombakan kabinet, kejelasan regulasi terkait Badan Pengelola Investasi Danantara, hingga transisi kepemimpinan di bank-bank BUMN besar (Himbara) menciptakan kabut tebal di mata investor. 

Aksi jual besar-besaran (panic selling) pada saham-saham blue chip seperti BBRI dan BMRI menjadi bukti bahwa "jangkar" pasar kita sedang ditarik paksa.

Bagi pengikut setia value investing seperti Lo Kheng Hong, merosotnya pasar adalah waktu untuk "berpesta" karena banyak saham bagus dijual di harga "salah". 

Namun, bagi spekulan, ini adalah mimpi buruk.
Realitasnya adalah, IHSG sedang mengalami koreksi harga diri. Kita terlalu lama terbuai oleh narasi pertumbuhan tanpa memperhatikan fundamental fiskal yang mulai retak. Penurunan ini adalah pengingat keras bahwa pasar modal bukan sekadar angka di layar, tapi cerminan dari kesehatan sistemik sebuah bangsa.
Sejarah menunjukkan IHSG selalu berhasil bangkit (rebound) setelah koreksi dalam. 

Pertanyaannya bukan "apakah" ia akan naik lagi, tapi "siapa" yang masih punya sisa modal dan nyali saat indeks akhirnya berbalik arah?

25.03.2026
-Hanurani-
WaSekJen DPP Partai HANURA.

(Red / Erwin)
×
Berita Terbaru Update